Cetek Kali, Bah!

Hari 1

Mereka bertemu di kantin kantor, masing-masing berniat untuk makan siang, tapi tak sengaja ketika di kantin mata mereka beradu pandang, dan muncul rasa penasaran antar sesamanya.

Hari 2

Mungkin hanya suatu kebetulan? Mereka bertemu kembali dan beradu pandang lagi. Jarak mereka hanya beberapa meja, salah satu dari mereka melemparkan senyum, dan senyumnya berbalas.

Hari 3

Mereka tidak bertemu di kantin, tidak bertemu di mana-mana. Salah seorang dari mereka bertanya dalam hati, kemana dia yang dua hari lalu selalu bertemu dan beradu pandang dengan saya?

Hari 4

Mereka bertemu lagi, beradu pandang kembali. Salah seorang dari mereka berusaha menghampiri dan membuka percakapan basa-basi. Gayung bersambut, mereka berkenalan dan ngobrol tentang remeh-temeh, dan masing-masing mengetahui kalau kantor mereka satu gedung.

Hari 5

Mereka bertemu di kantin lagi, beradu pandang, saling melemparkan senyum, berani menegur dan memanggil nama satu dan lainnya.

Hari 6

Bertemu di kantin lagi, ngobrol banyak dan ternyata mempunyai banyak kesamaan. Memiliki minat yang sama tentang puisi, menulis, menonton film, dan berkesenian, Obrolan mereka tambah nyambung, mereka bertukar nomor telpon pada hari itu.

Hari 35

Mereka berani menjalin kasih, seorang dari mereka menyatakan cinta dan cintanya berbalas, Mereka resmi menjalin kasih.

Hari 71

Tibalah saatnya mereka membicarakan tentang rencana ke jenjang yang lebih serius. Jenjang pernikahan.

Instagram.com/wahidsabillah
Hari 93

Mereka tak menyangka ujian untuk melanjut ke jenjang yang lebih serius menemui tembok tinggi. Orang tua salah seorang dari mereka tidak menyetujui. Priyayi harus berpasangan dengan priyayi. Klise memang, tetapi begitulah kultur yang sudah dibangun tujuh turunan.

Hari 100

Mereka masih berusaha membujuk dan merayu orang tua salah seorang dari mereka. Menjamin kalau ketika mereka menikah nanti tidak akan menyusahkan orang tua. Semua akan mereka tanggung berdua.

Hari 112

Tidak ada kabar dari salah seorang dari mereka. Banyak pertanyaan muncul dari yang satunya. Kemana ia tiba-tiba menghilang? Memang hubungan mereka tak direstui, tetapi bukankah mereka sudah berjanji untuk memperjuangkan cintanya. Kemana dia?

Hari 115

Seorang yang menghilang tadi muncul lagi, mereka bertemu kembali, tetapi ada yang salah dengan dia yang telah menghilang beberapa hari. Air muka nya mengisyaratkan sesuatu yang tidak baik.

"Kita sudah berusaha dan berjuang bersama-sama untuk cinta. Tetapi sepertinya aku lelah dengan ini semua. Orang tuaku tak akan mengizinkan kita untuk menikah."
Sebulir air keluar dari pelupuk matanya.
"Kita sudah tidak bisa sama-sama. Orang tuaku menjodohkan diriku dengan anak dari teman mereka, dan saya akan menikah dengan dia secepatnya."
Hari ke 115 adalah hari yang paling ia ingat, cinta nya kandas, cita-cita membangun bahtera rumah tangga hanya menjadi angan-angan yang terus membayangi setiap malam. Beberapa puisi ia tulis dengan berteman kopi pahit dan juga beberapa kaleng bir sepulang kantor.
 "Hari-hari seperti hujan, menebar wangi tanah basah sejenak, lalu dingin. Lalu asing. Kau tidak perlu khawatir pada perihal-perihal kecil yang akan membuatmu menyesal. Sudah kuhabiskan tabungan membeli baju penghangat, kopi pahit, dan buku-buku puisi. Masukkan hari-hari itu ke koper atau lipat rapi di buku catatan, juga foto-foto di ruang tengah dan di atas meja riasmu. Pergilah. Pergilah. Kau boleh menoleh, jendela tidak kukancing. Kau bisa melihat tubuhku mengecil sebelum kau pelan-pelan ditelan tikungan jalan." - Aan Mansyur "Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi"

Instagram.com/wahidsabillah

*Cerita ini adalah imajinasi saya ketika selesai membaca kembali Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi karya Aan Mansyur. Bonus, lagu yang saya putar berulang saat saya kembali membaca buku itu seharian.


Imajinasinya Cetek Kali, Bah!

Related Posts

2 comments