Hidup Adalah Perihal Jatuh dan Bangun. Meninggalkan dan Ditinggalkan

Pernahkah kau pulang ke rumah dengan perasaan hancur? Cinta dan sayang tercecer sepanjang jalan. Sudah kau habiskan kopi bergelas-gelas, rokok kretek berbatang-batang, menambah daya untuk kau terjaga sepanjang malam. Kau tuliskan berlembar-lembar sajak. Tentang cinta, kehilangan, dan sahabat yang tak pernah kembali pulang.

Pernahkah kau pulang ke rumah dengan perasaan gamang? Rindu tak terbalas, cinta tak terungkap, rasa yang mengendap, menua, dan tanpa sadar menjadi artefak. Yang sekali-kali kau kunjungi dengan mata yang sembab. Kau tuliskan percakapan tentang dekorasi pelaminan berwarna gelap, undangan yang ditulis dengan pena setiap hari --sepuluh undangan setiap hari-- dengan hati.


Hidup adalah perihal jatuh dan bangun lagi. Meninggalkan dan ditinggalkan.

Telah datang suatu pagi. Kau bangun dari tidur dan mengumpat "Hidup macam apa ini?" Kelabu. Padahal di luar matahari bersinar, langit cerah, burung-burung gereja terbang dari tanah lapang ke dahan-dahan pohon yang rindang.

Tetapi...

Akan datang pula suatu pagi. Kau akan bangun dengan riang. Padahal di luar sedang hujan, angin kencang, banjir, macet, dan kau sangat bersemangat mengarungi hari. Bergegas pergi demi melihat senyum manis dari seseorang yang memiliki deretan geligi yang tersusun rapi.

Tak usahlah kau terlalu lama larut sakitnya patah hati.

Mari berlari. Selamat jatuh cinta lagi.


Related Posts

2 comments