Merapal Doa Jangan Hujan




Lusi berlari mengejar kakaknya yang sudah pergi ke sekolah lebih dulu. Lusi terlambat karena sibuk mencari-cari topi untuk upacara di lapangan pagi ini. Hari Senin selalu dinantikan karena merah putih bendera akan secepat mungkin dinaikkan. Boleh jadi Lusi mengiring bendera dengan nyanyian merdu Indonesia Raya atau cukup sebagai peserta saja. Hari-hari siswa di sekolah dasar, begitu setiap minggunya.

Ia berlari mengejar kakaknya yang sudah tak terlihat di jalanan depan rumah. Lari begitu saja. Hanya dengan baju seragam, tas cokelat, dan sandal jepit pemberian ibu. Tanpa uang saku, ia hanya menunggu makan di rumah. Berdua bersama kakak karena ayah ibu pergi melaut. Cari ikan, cari penghasilan. 

Lusi tidak pernah datang terlambat ke sekolah karena sibuk mencari topi atau lupa mengerjakan pekerjaan rumah. Lusi hanya datang terlambat ketika musim penghujan datang. Satu dua tetes hujan menyejukkan, tapi begitu jadi deras justru memilukan. Alasan hujan adalah alasan yang selalu bisa diterima, apalagi bu Theo sang guru tahu bahwa Lusi tak miliki banyak baju untuk datang dari Senin hingga Sabtu. Bagi Lusi, ini beban.

Langkah jadi sedikit berat, semangat jadi melarung bebas. Hujan menyeruak tanpa ampun, meminta timba untuk ditampung. Katanya, hujan adalah tangisan langit atas dosa-dosa dan keringnya iman di bumi. Katanya, hujan adalah pemantik rindu dan saat tepat beradu doa untuk hal-hal yang kamu mau. Tapi, Lusi tak pahami itu. Ia hanya tahu bahwa hujan memberinya waktu lebih untuk berpikir melanjutkan perjalanan atau berdiam diri di rumah menunggu reda. Tak melanjutkan kejar ilmu.

Meski Lusi telah terbiasa dengan hujan atau bahkan masa kekeringan, ia tetap inginkan satu hal. Pergi ke sekolah dengan baju bersih dan sepatu berwarna merah yang menyolok mata. Warna putih bukan favoritnya karena debu ataupun lumpur adalah musuh di tanah Kupang. Membuat noda yang susah hilang.

Lusi ingin dapatkan kejutan untuk dua minggu ke depan, entah dari orang tua, teman, atau orang-orang dermawan yang melakukan kunjungan ke desa Pakubaun. Hari ulang tahun bersama orang-orang di tempatnya menaruh harap. Berbahagia di sekolah, berbahagia di rumah. 

Lusi, hanya bisa merapal doa. Semoga mimpinya dikabulkan dan hujan tak lagi datang. Mungkin ia memang tak seperti kita yang menghardik hujan karena takut make up luntur, jalanan macet, gagal nonton atau baju terbaik untuk bertemu klien jadi basah. Sesederhana merapal doa jangan hujan, mungkin setiap orang memang berbeda tujuan.





ps : untuk adik-adik SDN Rium Pakubaun Kupang, teruslah merapal doa dan hadiah lain kan segera datang. Sampai jumpa di tempat kalian!



Related Posts

2 comments