Oh, New Year’s Resolution. Haruskah?


Sudah tanggal 5 di tahun yang berbeda. Januari mungkin tak lagi sama atau akan seperti itu-itu saja. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada yang mendekat, ada pula yang tiba-tiba memilih jadi asing. Tak menyapa atau jadi alien dari planet berbeda.

Kamu mungkin sering melihat teman posting di social media-nya kata-kata ini "New year, new me ; Insyaallah dilancarkan rencana baik tahun ini ; 2017: Kawin, etc." Oh, akhirnya aku penasaran - have you ever made a New Year’s Resolution?

Banyak orang bilang kamu harus bisa membayangkan 5 tahun lagi kamu akan memiliki apa, 10 tahun lagi kamu akan berkarir seperti apa, atau jangka waktu 1 tahun ini kamu akan menyelesaikan bucket list-mu yang mana. Visioner sih bahasa okenya. Dari percakapan singkat di sebuah grup whatsapp akhirnya jelas sudah bahwa bukan aku saja yang tidak pernah membuat resolusi tahunan. Tidak semua orang pernah membuatnya. 

Ada orang yang begitu teguh dan pintar dengan perencanaan. Ada juga yang disebut beruntung karena menyelesaikan resolusi orang lain yang justru tidak terlalu ia harapkan. Ada pula yang diam-diam merajut resolusi sembari memahami dirinya sendiri. Entah mengapa kadang hidup rasanya seperti membolak-balikkan kartu. Jika kamu memiliki kartu joker lebih banyak, bisa jadi kamu punya kendali lebih untuk melanjutkan permainan. Atau bisa saja kartu bernilai 2 yang jadi kartu utama, semua tergantung permainan jenis apa yang tengah kamu nikmati. Kamu jalani.

Hidup punya sang pengatur peran, sang pencipta aturan, dan hidup akan jadi lebih sulit jika kamu tak menguasai pola permainan. Bahkan terkadang kamu harus memilih untuk menyalahi aturan karena ingin melompat 3 langkah lebih cepat dari lawan. Jauh tidak terkejar, punya prestasi segudang.

Tepat di hari ini pukul 08.56 WIB, seorang kawan menghubungi dan bilang bahwa pertunangannya dibatalkan. Rencana menikah menjadi sekedar ruam. Membekas, gatal, perih, dan tak semudah itu hilang. Beberapa jam kemudian di hari yang sama, seorang kawan mengabarkan kehamilan istrinya. Ia akan jadi ayah, ia akan mempersiapkan dirinya yang dulu memang tak begitu mengerti arti ayah sesungguhnya.

Lagi-lagi, kamu akan memahami bahwa rencana tak ada yang tahu kemana muaranya. Bisa jadi kamu bahagia, bisa jadi kamu merasa luka.

Jika resolusi memang lebih dari sekedar kata, buktikan dengan segenap upaya pada mereka yang meremehkanmu. Jika resolusi tak pernah kau tulis adanya, yakini saja bahwa kamu akan menjalani hidup lebih baik dari ini dan siap menerima kejutan-kejutan lain dari sang pemberi kehidupan. Jangan padam dalam kelam atau memilih mengakhiri permainan karena banyaknya tekanan. Kamu dan aku harus terus berjalan, hidup ke depan.

Related Posts

3 comments

  1. Resolusi... kebanyakan si diucapkan di awal, lalu lupa di tengah jalan. Kalau aku si begitu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha bisaa bisaaa :)) Mangkanya ada orang yang milih ga koar-koar resolusinya apa soalnya ga yakin konsisten ngerjainnya :D imho

      Delete
  2. Resolusi hanya akan jadi sekedar janji palsu atau tidak, itu semua tergantung kita nya sendiri. Tahun 2015 lalu, saya berhasil mencapai 4 dari 5 resolusi saya, not bad kan? Meskipun mungkin ga 100% bisa terwujud, tapi hidup kita akan jadi lebih baik apabila kita punya tujuan yang jelas berikut rencana mengenai langkah-langkah yang harus dicapai jika ingin mencapai target tersebut

    Tahun 2017 ini saya kembali membuat 5 resolusi anti mainstream. Kalo ada waktu, main-main juga ke blog saya ya hehehe

    ReplyDelete