Pertama

Waktu menunjukkan pukul 12:20 siang, aku setengah berlari menuju kantin. Sudah 20 menit berlalu dari jam makan siang. Aku mengutuk diriku sendiri karena terlalu bodoh. Demi seorang teman, aku telat datang ke kantin. Jam segini pasti kantin sudah dipenuhi karyawan lain, tempatku pasti sudah diduduki orang. Dan dia, iya dia, yang membuatku bersemangat pergi ke kantin, pasti hampir selesai makan.

Aku semakin mempercepat langkahku. Setidaknya aku harus bisa melihat senyumnya walau barang 1 menit. Aku berlari. Oh tidak, kenapa aku harus berpapasan dengan orang yang kukenal, aku sedang terburu-buru, tak ada waktu untuk berbasa basi. Persetan dengan tanggapan mereka. Aku tak peduli jika dianggap sombong. Senyumnya terlalu berharga untuk dilewatkan.

Sampai di kantin, pukul 12:30. Seperti yang kuduga, tempatku sudah diduduki orang lain dan dia sebentar lagi selesai. Tak masalah, aku bisa mencari tempat lain.

Aku duduk membelakanginya. Aku mendengar suaranya yang ringan sedang berbicara dengan 3 temannya. Hanya mendengar suaranya, aku lupa dengan laparku yang tadi sempat memburu. Semua terasa damai. 

Tiba-tiba suaranya berhenti, ia bangun dari kursinya. Aku pun terkesiap. Segera kuputar kursiku agar dia tidak melihatku. Ia melewatiku yang sedang sengaja menunduk, diam-diam kuintip senyumnya. Ah ya, senyum itu. Senyum manis yang memperlihatkan geligi mungil yang berjajar rapi. Lesung pipinya pas, tidak terlalu dalam tapi cukup menambah manis.

Sudah sebulan aku hanya bisa menikmati senyumnya dari jauh di kantin pada jam makan siang. Sudah sebulan juga aku jatuh cinta pada senyuman manis itu. Tapi, tak ada sehari pun aku berani menyapa atau sekedar tersenyum padanya. Nyaliku selalu ciut saat aku ada di depannya.

Pernah sekali waktu aku memberanikan diri untuk menyapanya, tapi niatku urung kujalankan. Aku khawatir Ia akan takut padaku. Setiap hari, aku mengumpulkan keberanian untuk tersenyum padanya. Lama-lama aku bosan juga harus curi lihat senyum itu. Aku ingin senyum itu mengembang khusus untuk ku. Sambil menunggu keberanianku terkumpul, aku harus rela menikmati senyumnya dari jauh.

******
Hari ini adalah hari yang sangat penting. Keberanianku sudah kukumpulkan, lembar demi lembar. Aku bahkan sudah latihan tersenyum di depan cermin sejak 3 hari yang lalu. Skenario sapaan pun sudah kuhapalkan di luar kepala. Hari ini adalah hari yang tepat. Aku akan menyapa dan tersenyum padanya. Sebentar lagi, aku akan melihat senyum itu mengembang khusus untukku.

Kupakai pakaianku yang terbaik ke kantor, tidak lupa aku juga menyemprotkan wewangian yang lembut. Hari ini adalah hari yang spesial, aku tidak mau mengacaukannya hanya karena bajuku yang berantakan atau bau badanku yang menguar tidak sedap. Aku datang lebih pagi ke kantor, memastikan semua pekerjaan berjalan semestinya dan selesai sebelum makan siang. Aku bahkan menyisakan waktu jika mendadak ada “kecelakaan” kecil yang bisa membuatku telat ke kantin sepeti kejadian tempo hari.

Akhirnya, jam makan siang pun tiba. Aku hampir melonjak dari kursiku. Aku berusaha berjalan tenang namun dengan langkah yang cepat. Kantin masih kosong, aku menempati tempatku seperti biasa, persis diseberang tempatnya biasa duduk. Aku memesan segelas air putih dan puding cokelat. Aku tidak bisa makan sebelum rencanaku berjalan mulus.

Ia pun datang, waktu ku makin dekat. Aku bangkit dari tempatku dan menghampirinya. Kusunggingkan senyumanku yang terbaik diiringi dengan sapaan.

Senyumku tak berbalas. Ia berbalik dan memalingkan wajahnya dariku. Tak ada senyuman, tak ada sapaan.

Keesokan harinya, tak kutemukan lagi ia di kantin.






Related Posts

2 comments