Sarinah, mungkinkah kita berjodoh??

Gue lagi jatuh cinta. Dari sekian banyak pilihan, but somehow cuma dia yang berhasil bikin sukses gak tidur berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.  Gak tahu kenapa pas pertama kali namanya disebut, rasanya seluruh badan bergetar. Setiap hari gue hanya bisa memandangnya dari kejauhan seraya berucap dalam hati, ”Suatu saat, kita pasti bisa kenalan sama dia".

Tapi sepertinya mendapatkannya begitu sulit. Jangankan mendapatkan dia, membayangkan bisa bertemunya pun sudah cukup membuat sekujur badan merinding.

"Bagai pungguk merindukan bulan"
Pepatah lama, tapi mungkin masih relevan buat sebagian orang yang punya cerita yang sama dengan gue. Kalau dipikir-pikir memang kisah gue saat itu persis seperti burung hantu. Hanya bisa menyanyikan senandung penuh kekaguman pada keindahan bulan purnama yang sudah pasti tidak bisa membalas nyanyian sang burung hantu. Mungkin terdengar bodoh tapi punya sejuta makna.

Dengan segala kekurangan--yang sebenarnya mungkin hanya jadi rasa ketidak percayaan diri--satu pertanyaan besar muncul di kepala, "Sarinah, apakah nantinya kita berjodoh?"

                                                              ~~~~~~~~~~~~~~
Gue sempat lupa sama apa yang pernah gue rasain, sampai gue di-tag sendiri oleh Facebook tentang apa yang pernah gue share tepat 5 tahun yang lalu. Kayak disambar petir disiang bolong, lagi enak-enak tidur kebangun karena tiba-tiba ada yang teriak maling, you name it lah!! Intinya gue tersadar sama apa yang pernah gue tulis 5 tahun yang lalu. Meeeeennnn.... ternyata dulu gue sejatuh cinta itu sama Sarinah!

Cuma satu hal yang bikin gue jatuh cinta sama Sarinah. Gue suka banget sama radio. Dan radio pertama yang bikin gue orgasm sama radio ya adanya di Gedung Sarinah Thamrin. Mungkin pemilihan kata orgasm itu sedikit berlebihan. Tapi itu mungkin gak ada apa-apanya sama kegilaan gue terhadap radio. 

“Masih dari lantai 8 gedung Sarinah Thamrin, this is …. ” itu kata-kata yang setiap pagi gue denger di radio, nemenin perjalanan gue dari jaman SMA sampai terakhir gue kerja jadi asisten dosen mata kuliah Theatre. Di sana ada harapan, cita-cita, dan mimpi gue. Spesial. Ya, itu adalah kata yang pas menurut gue untuk menggambarkan semuanya. Satu kata yang maknannya luas buat gue pribadi.

Karena dia juga gue memutuskan untuk kuliah di tempat gue yang sekarang. Setiap hari gue lewat didepan Sarinah. Mencoba melihat dengan angle terindah melalui dari celah-celah manusia yang sesak dalam Transjakarta sambil mengucapkan doa dan harapan. Karena gue ingin menjadi salah satu bagian dari mereka.

Lima tahun setelah gue menyelesaikan kalimat terakhir di postingan blog gue. Pertanyaan itupun terjawab. Jawabannya adalah jawaban yang sangat sesuai dengan harapan. Bahkan nyokap gue ikut merinding, karena gak nyangka, ternyata keajaiban doa bisa se-dahsyat itu.

Jujur gue juga sempet merinding. Seneng udah pasti lah. Akhirnya impian gue terjawab. Gue menjadi salah satu bagian dari mereka. Tapi apakah jawaban ini benar-benar jadi jawaban yang gue inginkan untuk sekarang?

Kadang orang suka lupa yang namanya bersyukur sama apa yang sudah didapatkan dengan segala macam perjuangan yang sudah dilakukan. Semoga sekarang gue cuma terlena.

Ok, untuk jawabannya "Sarinah, aku bersyukur akhirnya aku bisa mendapatkanmu. Mari kita melukis sejarah indah, bersama...."

Related Posts

No comments:

Post a Comment