Saatnya Marathon, Pergilah Cemas.



Melewati bulan pertama di tahun 2017 dengan beberapa renungan. Januari mengajarkan saya untuk memahami banyak orang. Melihat kesehatannya, psikisnya, hingga caranya bercerita. Meluapkan kecewa, kesedihan, amarah, hingga bahagianya.

Kamu pasti sering merasakan hal yang sama dengan teman-teman saya. Kamu pergi liburan, tapi tetap memikirkan kerjaan. Kamu pergi ke salon, karena dituntut pasangan. Kamu memilih pakaian, karena ingin diperhatikan. Kamu membuang jatah tidur, karena ingin bersenang-senang. Semua karena sesuatu hal dan tak bisa kamu sanggah. Begitu seterusnya hingga kamu merasa LELAH.

Lelah karena terus merasa kurang dan kurang. 

Beberapa waktu lalu saya memutuskan pergi keluar kota dan menemui kawan lama yang kini telah menemukan ketenangannya. Dulu ia begitu cemas akan jati dirinya, cemas akan asmaranya, bahkan cemas akan keluarganya. Tuntutan demi tuntutan rasanya terus mendera apalagi ketika kamu sudah bertambah usia, bertambah gelar pendidikan, bertambah teman, dan bertambah uang. Orang lain akan terus menanyakan soal mengapa kamu begini, mengapa kamu begitu. Mengapa tidak memilih ini, mengapa tidak mencoba itu. Kapan akan ini dan kapan akan itu. Tapi, tak ada yang bertanya soal kapan mati ya? *canda*

Jengah. Begitu yang terlihat dari sosok kawan saya beberapa tahun lalu dan kini saya bangga karena ia dapat mencipta dunianya dengan perasaan bahagia yang mendalam.

Mengapa ia bisa merasa begitu bahagia? Karena ia telah menemukan pola dalam hidupnya. Pola yang harus dilalui dari hari ke hari, pola yang memberi celah ruang kosong mana yang perlu dipenuhi. Tak pusing soal ucapan orang yang melemahkan hati. 

"Hidup bukanlah sprint, tapi hidup adalah marathon", sang kawan mengutip pesan dari kekasih barunya dan menyampaikan pada saya saat itu juga. Kamu hidup bukan untuk berlari menjadi yang tercepat, tetapi kamu hidup seperti marathon, jangan sampai kehabisan nafas jika tak ingin terjerembab.

Si A merasa cemas karena di usianya yang menginjak kepala 3 ia belum juga menikah. Si B begitu suntuk karena pekerjaannya yang baru 1,5 tahun terasa membosankan dan ia butuh suasana baru. Si C begitu sedih tak bisa mengejar mimpinya karena harus mengurus orang tua. Si D tertawa dan bilang, "mengapa tak kau syukuri saja semua karena setiap manusia miliki waktunya sendiri-sendiri."

Jika kamu sampai saat ini masih merasa kekurangan dan dihinggapi sepi, kamu tidak sendirian. Jutaan orang bernasib sama atau bahkan tak seberuntung kamu. Nikmati dan syukuri apa yang kamu dapat kini karena melanjutkan hidup tanpa kehabisan nafas adalah jalan terbaik untuk saat ini.

Mungkin bukan sekarang, tapi percayalah bahwa usahamu akan terbayar, perjalananmu akan tertuju, dan waktumu akan tiba untuk menjadi seperti yang lainnya. Menikah, sukses, berlimpah harta, atau bisa mewujudkan bucket list yang sedemikian panjangnya. Meski ini begitu normatif, tapi kamu pantas menjalani hidup selayak yang kamu mau, sebebas apapun jika dirasa perlu.

Teruslah merasa bahagia dalam dekapan semesta. Pergilah, cemas.


Related Posts

1 comment

  1. Nice thought sis, nice article. It's important to always grateful in every condition. Don't be worry because The Universe know what is the best for us. Pada akhirnya kita akan merasakan yang manis2 kok.

    ReplyDelete