I Alabar

Waktu menunjukkan jam 10:11 pagi. Alabar bangun dengan kepala berat, mata berkunang-kunang dan perut yang melilit. Ia melirik telepon genggam miliknya sambil berbisik lirih. “40 panggilan tak terjawab dari kapten Abram, matilah aku” katanya. “Berapa lama ya aku sudah tertidur”, masih mendengus dan berjalan ke wastafel, mencuci muka, bercukur. Kepala Alabar masih berat seperti dihantam godam. Alabar makan biskuit kering yang semakin lama rasanya mirip seperti tali.

Setelah makan, ia berjalan gontai ke arah meja kecil. Sebuah meja kecil dengan foto keluarga, beberapa lencana, medali penghargaan dari Neopolis Distrik 38. Medali berwarna keemasan dengan tulisan Lulusan Akademi Terbaik dan piagam MOO, Most Outstanding Officer.  Alabar lanjut makan biskuit dengan rasa seperti tali, dan sambil melihat lihat pesan dari hapenya. Kepalanya masih berat biarpun perutnya sudah tidak bertindak bak begundal lagi.

1 Message dari Jessica, dan hapenya bergetar sedikit. Pesan itu berbunyi, “Gak ke kantor? Kapten Abram mencarimu dari tadi malam!” Alabar membalas pesan,”Sebentar habis makan aku ke sana. Maaf tadi hape habis baterai”. Klise karena hapenya sama sekali tidak habis baterai. Alabar mengambil 4 butir obat penenang dan mendorongnya masuk kerongkongan dengan segelas besar air. Sakit kepalanya mulai hilang sedikit. Alabar cuci muka lagi, mengambil kaus hitamnya dan jaket jeansnya lalu mulai melangkah gontai menuju stasiun kereta.

Di sepanjang gang dari flat sempit miliknya, dinding dipenuhi oleh poster Omar Al Thalib, calon anggota parlemen dari partai Mentok (Mengabdi Tidak Oentoek Korupsi). Dia lagi naik daun karena getol mempromosikan program HMN, Hampir Manusia Network, sebuah rencana program untuk mengganti semua personil militer dan kepolisian dengan program dengan manusia bionik. Dan tidak semua orang suka. HMN adalah program yang mahal dan berisiko untuk menciptakan pengangguran. Orang-orang seperti Alabar ini juga terancam dirumahkan kalau program ini 100% jalan.

Namun Alabar tidak terlalu peduli. Kepalanya sudah terlalu penuh dengan kasus-kasus. Manusia bionik biarpun belum 100% diimplementasikan namun mereka sudah berjalan dengan efisien. 1 unit manusia bionik di kepolisian berhasil menuntaskan kasus dengan tingkat efisiensi 97%, tidak banyak menuntut, dan yang paling penting tidak suka galau. Kalau tidak perform dengan bagus, mereka bisa digantikan dengan bentuk yang lebih baru. Alabar sampai di stasiun, menukarkan beberapa uang logamnya dengan tiket kereta sekali jalan dan naik kereta. Alabar memilih  tidak memakai teleporter karena biasanya dia bakal mual parah setelahnya. Lagipula dengan jumlah obat penenang yang dia konsumsi, otaknya bisa kemungkinan rusak jika memakai teleporter.

Kereta punya caranya sendiri untuk menghibur Alabar. Di sana dia bisa mengamati gerak gerik orang. Mengamati ibu yang sedang menggendong anaknya, anak anak muda sebayanya dengan baju jas rapi karena berkantor di distrik paling makmur yaitu Distrik 8, lalu beberapa anak sekolah yang berada di distrik 5 yang selalu ceriwis dengan model, musik serta mengupdate social media mereka. Alabar memang masih muda, namun karena tragedi dia jadi sedikit berbeda. 

“Pemberhentian berikutnya, Stasiun Distrik 39” begitu announcement dari kereta. Alabar turun dan bergegas cepat ke arah kantornya di salah satu bangunan di Distrik 39. Di sanalah ia berkantor. Dan hari ini dia kesiangan parah. Sembari menggerutu diapun menekan bel. AI di kantor tuanya menjawab, “silakan periksa retina anda sebelum memasuki gedung ini”. Retina Alabar dipindai dan AI menjawab, “silakan masuk, Detektif Alabar”. “Hmm belum diprogram ulang sepertinya”, gerutu Alabar. Pintu kantorpun dibuka dan terlihat Jessica sedang mengetik. Hari ini dia pakai baju warna peach.

Pagi sekali ya datangnya, Al” gerutu Jessica sambil menekan tuts pada keyboard. “Iya maaf.” Jawab Alabar datar. “Ada apa saja kita hari ini, Jes?”, tanya Alabar. 
“Okay, jadi hari ini seperti biasa. Tidak ada klien baru. Jadi cuma ada titipan ini dari Kapten Abram dan video yang sudah dikirim ke email kantor kita.” celetuk Jessica sambil menyodorkan paket plastik dengan label “Barang Bukti 00124122” 
“Okay, ada lagi! Ku baru ingat. Selamat ulang tahun, pak Boss. Ini hadiahnya.” kata Jessica sambil menyodorkan kotak kecil. “Wah ini hari ulang tahunku ya. So thoughtful of you. Thanks” kata Alabar. Alabar membuka kotak abu abu kecil yang diikat dengan pita merah jambu. 
 Ternyata isinya adalah miniatur Lord of Faerun, dengan bentuk raja kurcaci yang sedang ditandu oleh dua prajurit kurcaci lainnya.
Biasanya, miniatur ini belum dicat sedangkan yang diterima oleh Alabar sudah di-cat. “Kamu tahu dari mana aku sudah lama incar ini? Lengkap sudah koleksiku! celetuk Alabar girang. “Ya tahu dong. Kamu bukan satu satunya kok yang bisa jadi detektif” jawab Jessica sambil mengedipkan sebelah matanya. “Okay, waktunya bekerja” teriak Alabar bersemangat. 

  Alabar menyalakan PCnya dan mulai mengunduh file kiriman dari Kapten Abram dengan pesan “Ada pendapat soal ini”. Video itu ternyata adalah video mayat perempuan dengan gaun berwarna oranye. Mayatnya sudah hampir tidak berbentuk, kemungkinan karena jatuh terjerembab dari lantai rusun yang menurut keterangan di laporan tim CSI NPD berada dari lantai 45. Alabar menggerakkan jarinya di layar datar PC dan memperbesar gambarnya. “Jadi ,entah si penyerang adalah orang dengan badan cukup besar. Ada tanda tanda perlawanan di leher, bekas pukulan biarpun susah dikenali , sudut lemparan sekitar 65 derajat, terlihat seperti kekerasan domestik.’

Begitu asumsi sementara dari Alabar dan sakit kepalanya mulai kambuh lagi. Seakan akan tidak peduli dengan hantaman godam yang ada di kepalanya, Alabar masih menatap serius layar komputer sambil sesekali melirik meja Jessica yang sekarang sedang mengetik sambil menerima telepon dari pacarnya.

Ada bercak darah aneh di beberapa foto yang juga dikirimkan oleh Kapten Abram ke Alabar, seperti bukan darah manusia. Ada bercak darah berwarna kebiruan. Alabar kembali melirik report yang dikirimkan oleh tim Kapten Abram. Sambil menggerakkan jarinya, dan memperbesar satu poin yang menurut menarik. Perbesar dan terlihat tulisan “tingkat keasaman darah cukup tinggi dan tidak ada di database distrik manapun.”

Mata Alabar tertuju pada paket barang bukti kiriman Kapten Abram. Dibukanya paket itu dan diambilnya dengan pinset. Paket itu berisi gelang kaki. Gelang kaki zirconium bertatahkan batu mirah. Alabar merasa familiar dengan gelang kaki. Dia seperti melihatnya entah di mana. Dimasukkannya gelang kaki itu dan berharap asumsinnya salah. Alabar merebahkan tubuh ke kursi miliknya dan mulai  memejamkan. Dia selalu begitu setiap dia berpikir. Mencoba membayangkan dirinya berada di tempat kejadian. Melayang lepas sampai suara Jessica mengusiknya.

“Oi, Al” celetuk Jessica. Alabar tersentak dan menjawab “Bikin kaget , ada apaan sih?”
 “Ini aku mau pesan makanan. Kamu mau juga? My treat ya.” Kata Jessica sambil menyunggingkan seulas senyum. “Eh boleh deh, ini kasus lumayan bikin lapar.” kata Alabar.

Sambil melirik ke arah barang bukti, Jessica bilang, “Gelangnya bagus, sayang barang bukti sih.” “Mau? Minta belikan pujaan hatimu saja” kata Alabar ketus.  “Ih cemburu ya?” ledek Jessica. “Cih” kata Alabar sambil buang muka. “Ya sudah mau pesan makanan apa kita?” kata Jessica. “Makaroni keju saja seperti biasa sama donat gula” kata Alabar. “Heran kamu makan makanan kayak gitu badannya gak tambah gemuk ya” kata Jessica. “Ya enggaklah, kan otaknya dipakai buat mikir.” ledek Alabar. “Okay deh.”kata Jessica sambil menekan angka pada layar smartphonenya dan mulai menelepon tukang makan.

Alabar kembali tenggelam dengan pikirannya sambil berulang kali melihat layar penyelidikan. Otak Alabar mulai berputar kembali, mencoba mengingat – ngingat di mana ia pernah melihat gelang ini. Dengan sedikit tergesa, Alabar mengambil kantong barang bukti, mengambil jaket hitamnya dan mulai menuju pintu ke luar. “Dirimu mau ke mana? Makanannya baru saja dipesan.” sergah Jessica. “Sebentar lagi ada urusan, ada yang tiba tiba ingat.” Kata Alabar. “Jangan gitu dong, makan barenglah kan ini hari ulang tahunmu. Santai sedikit bisalah.” rajuk Jessica

“Aku gak bisa buang buang waktu nih!” kata Alabar cepat sembari menscan retina. “Taxi” Alabar memanggil taxi. Tidak berapa lama taxi hitam berhenti, Alabar pun naik. “Distrik 5 ya, Gloria Pub”. Taxi-pun melaju kencang. Alabar mengambil kantong plastic dari sakunya dan melihat lihat barang bukti gelang tadi. “Cuma ada satu tempat di mana gelang ini berasal, tak mungkin salah lagi.”

Setengah perjalanan, telepon Alabar berdering. Di layar tertulis Abram. “Halo Kapten Abram!” sapa Alabar. “Heh bangsat, susah banget ditelepon hari ini!” maki Kapten Abram dari sebelah sana. ‘Sori, kepalaku pusing sekali seharian. Ada apa?” kata Alabar. “Lagi di mana kamu? Bisa ketemu?” “Lagi di perjalanan naik taksi ke Gloria Pub, mau ketemu di sana?” “Sampai jam berapa kamu di sana?” kata Kapten Abram. “Entahlah, aku mau follow up kasus yang kamu kirimkan tadi siang”, kata Alabar. “Yaudahlah aku ke sana juga, awas ya mangkir lagi.” bentak Kapten Abram.

“Setan! Sudah bukan boss, masih aja main perintah”. Taxi-pun berhenti di Gloria Pub. Alabar menggesekkan kartu e money ke mesin yang ada di taxi dan bergegas turun. “Bangsat! Kasih tip kek. Duit elektronik gini nih. Dasar antek HMN!” hardik si supir taksi. “Heh QuVach[1]! Sudra dasar! hardik Alabar. Alabar bergegas masuk ke Gloria Pub yang biarpun masih senja sudah mulai terlihat ramai dengan orang-orang bermain rolet dan menonton striptis. “Cuma di sini tempatnya. Pemilik gelang ini pasti ada di sini!”

Dentuman musik pun mengalun membuat suasana semakin hingar bingar. Alabar merasakan getaran di sakunya yang ternyata berasal dari handphone miliknya. Ternyata cuma kiriman gambar makanan dari Jessica dengan pesan “Nih makanannya datang. Aku pulang dulu ya. Aku taruh di lemari es”.

“Cih penting” balas Alabar dengan emoticon ketus. “Cari pacar sana biar ada yang merhatiin. Week jeleeek” balas Jessica melalui pesan pendeknya. “Biarin yang penting boss” balas Alabar di pesan pendeknya.

Musik Clash of Seven Dragon Heads semakin menggila di Gloria Pub. Belum lagi sinar lampu warna warni juga buat suasana semakin semarak. Saking kerasnya, sampai Alabar tidak merasakan hantaman keras di tengkuknya. Tetiba suasana jadi gelap. (Bersambung ke POV Kapten Abram)




[1] Makian dari bahasa Neopolis sebelum era Kegelapan Teknologi. Artinya : Kupaku kamu!

Related Posts

No comments:

Post a Comment