I Kapten Abram

Kapten Abram mengepulkan asap berkali-kali dari mulut dan hidungnya. Entah kenapa dia merasa lebih ingin merokok dari biasanya. Lebih lagi, udara sedikit sejuk yang membuat keinginan merokoknya sangat impulsif. Di depannya, suasana sedang hiruk pikuk. Tim CSI mengumpulkan barang bukti, beberapa opsir sedang menyalakan garis polisi dan mendirikan kubah anti huru hara dengan targeted EMP agar tidak terlalu banyak warga sekitar yang menonton.

Okay, apa saja yang bisa kita dapat sekarang?” tanya Kapten Abram kepada salah satu detektif yang ada di sana. “Waktu kematian sekitar jam 23:11 malam, sekitar 5 menit yang lalu. Kemungkinan dilempar dari lantai atas, beberapa memar di daerah leher, tulang belakang hingga tengkorak hancur hingga 85 persen.” Ada bunyi bip  dari lapisan kulit detektif tersebut. “Pengenal wajah hanya bisa merekonstruksi hingga 50 persen.” Ada identitas pengenal? Dompet?” tanya kembali Kapten Abram sambil menghisap kembali rokoknya. “Tidak ada sama sekali.” kata detektif tersebut. Kapten Abram melengos pergi sambil menggerutu, “Ini kenapa aku benci setengah mati dengan HM”[1]. Kapten Abram menklik dua kali rokok elektriknya dan mulai menghembuskan asapnya. Asap yang berbau mint. Ia mengambil handphonenya dan menyentuhkan jari-jarinya pada layar tersebut. Ia mengetik angka dan mulai menelepon Alabar. Tidak ada jawaban. Begitu seterusnya hingga 40 kali. 

“Ke mana lagi si bangsat itu?” keluh Kapten Abram. Ia mulai gelisah dan melangkah dengan sedikit gontai kembali ke TKP. “Kapten!”  Kapten Abram menoleh. Petugas CSI itu menyerahkan satu plastik berisi gelang. “Kami menemukan ini tadi, sepertinya gelang kaki ini milik korban.” Hmm… sudah dimasukkan ke database CSI? Alert semua distrik dan titik temu kemungkinan bersinggungan dengan benda ini.” “Siap, Pak!” petugas CSI memberi hormat. “Sepertinya gestur itu bakalan makin usang” lamun Kapten Abram. “Hmmm… Kapten?” kata petugas CSI itu. “Iya, ada apa?” “Anuu…. Kapten? Mau di-scan copy barangnya seperti biasa?” tanya petugas CSI. “Boleh” kata Kapten Abram mengangguk tegas. Petugas CSI itu menyerahkan plastik barang bukti berisikan gelang kaki tadi. Dengan cekatan, Kapten Abram menscan copy dengan sebuah alat scanner dan duplikat barang bukti. Setelah itu, Kapten Abram mengirimkan paket itu melalui teleporter mini yang ia miliki ke alamat yang ia tuju. 

Kapten Abram menuju ke daerah jatuhnya korban sambil melihat-lihat, lalu memanggil dua petugas CSI lainnya sambil memberikan perintah “Okay, kamu ikut saya ke apartemen, yang lain tetap amankan situasi”. Kapten Abram bersama satu petugas CSI bernama Mackerel menuju lift apartemen TKP untuk mencari petunjuk. Tidak perlu waktu lama untuk lift sampai di lantai 45.

Kapten Abram dan Mackerel masuk ke unit 45517. “Mackerel, mulai sisir unit ini, saya akan mencari sudut sudut lain.”, perintah Kapten Abram. Merekapun berpencar mencari bukti. Apartemen sempit ini tidak terlalu banyak barang, namun banyak rusak. Wastafel, kasur yang terbalik, alat alat dapur yang sudah entah berapa lama tidak dicuci. Kapten Abram mengecek lemari pakaian, dan nihil. Tidak banyak yang bisa ditemukan. Kapten Abram menyalakan scannernya, dan di layar hanya ada beberapa angka yang tidak membantu. Furniture rusak 45%, bekas benturan 25%, jendela hancur 95%, guratan rambut, begitu yang tertera layar, begitu yang tertulis di layar. “Mack, ada yang menarik?” teriak Kapten Abram. “Ya kapten, sepertinya ini sedikit aneh.” kata Mackerel. Kapten Abram masuk ke ruang di mana Mackerel berada. Ruangan itu adalah dapur kecil. Di lantai dapur, tersebut ada bekas gesekan meja, dan beberapa bercak darah. Bukan darah manusia, karena berwarna biru. “Bagus sekali” puji Kapten Abram sembari menyalakan scannernya dan memasukkannya ke database. 

Beberapa saat berselang, Kapten Abram dan Mackarel mulai menyisiri dan menemukan banyak petunjuk lain. Yang paling tidak biasa adalah senjata plasma namun tidak ada sidik jari maupun residu digital. Senjata plasma yang mereka temukan juga tidak memiliki nomor registrasi. TKP ditutup dan semua unit kembali ke tempatnya masing-masing, kecuali Kapten Abram.
Ia sedang tidak ingin kembali ke rumah. Kasus ini aneh, tidak biasa. Dia sering melihat kasus pembunuhan, menangani beberapa namun tidak pernah ada yang seaneh ini. Pelakunya seperti tidak pernah eksis sama sekali. Kapten Abram membiarkan malam menggerogoti pikirannnya dan berjalan melalui stasiun teleporter.
XC-918. Stasiun teleporter yang sudah mulai sepi. Wajar, karena waktu sudah menunjukkan jam 1 malam. Kapten Abram menggesekkan kartu dan masuk ke salah satu pod teleporter. Ada 5 orang yang masuk di satu pod yang sama, 4 manusia dan 1 android.  Selesai memasukkan destinasi masing-masing, pod mulai mengeluarkan sinar dan dalam sekejap, sampailah Kapten Abram ke kantor polisi Neopolis Distrik 37.

Dalam keadaan mata yang masih berkunang-kunang dan mual, Kapten Abram memasuki kantor polisi Neopolis yang ramai. Kantor polisi ini memiliki beberapa ruangan, dari mulai ruang interogasi, ruang barang bukti, ruang IT, cafeteria, ruang senjata, administrasi dan lobby. Kapten Abram menekan tombol di lift dan menuju ruangannya yang berada di lantai 11. Sesampainya di sana, Kapten Abram masih sempat bertegur sapa dengan petugas jaga, Opsir Hypotenuse, si android. Kapten Abram melangkah gontai, membuka jaketnya, menyalakan rokok elektrik serta PCnya dan membuka laporan kasus yang di hari ini. Kecelakaan teleporter, overdosis neuroin di pesta kelulusan, kasus pembunuhan karena perceraian dan yang terbaru pembunuhan misterius yang belum ada titik terangnya sama sekali.

Yang sedikit berbeda adalah kebanyakan laporan ini sekarang dibuat oleh android. Abram mengecek email pribadinya yang cuma berisikan awaran kerja private security dari Tangential, e-pamphlet Partai Konservatif tentang bahayanya HMN (Hampir Manusia Network) kalau benar-benar diimplementasikan penuh. Kapten Abram mengarahkan jarinya ke layar datar komputernya, dan melakukan voice command untuk Alabar. Dengan cepat, Kapten Abram mengirimkan email ke Alabar tanpa basa basi. Dia perlu insight darinya. Kapten Abram tertidur tidak lama berselang setelah mengirim email.

Pagi berjalan seperti biasa di kantor polisi Neopolis. Kapten Abram terbangun dari meja kerjanya. Waktu menunjukkan jam 9 pagi. Kantor polisi masih tidak berkurang riuhnya. Kadet dan beberapa opsir berbaris di lapangan, suara apel pagi dan beberapa mobil patroli yang berangkat ke beberapa titik. Kapten Abram menempelkan beberapa caffeine patch dan menyalakan rokok elektriknya. Kasus tadi malam masih menghantui pikirannya. Android baru mulai diperkenalkan ke divisinya yang membuat dirinya semakin kesal. Ada alasan kenapa Kapten Abram tidak begitu menyukai kehadiran android yang semakin hari semakin banyak, dan semakin mirip manusia. Ledekan seperti HM yang akhirnya dipolitisasi sedemikian rupa membuat keadaan semakin keruh. Semakin hari semakin banyak laporan kejahatan yang di mana android menjadi korban. Buruknya lagi, politisi di atas sana mulai mencoba menggolkan android untuk memiliki hak yang sama seperti manusia. Kapten Abram merindukan suasana lama. Minum minum setelah kasus selesai, belasungkawa ketika ada petugas yang gugur, dan lain sebagainya. Sekarang? Di divisinya saja hanya ada dua manusia yaitu dirinya sendiri dan Mackarel.

Pikirannya yang semakin kalut dibuyarkan oleh nada panggilan PCDnya. Ada kasus ternyata. Kasus penikaman di pod teleporter Distrik 15, menurut dari PCD[2]. Kapten Abram mengambil jaketnya dan bergegas menuju toilet, mencuci muka lalu masuk ke pod teleporter milik Kepolisian. Satu-satunya kemajuan teknologi yang masih bisa dia tolerir.

Teleporter sampai dan TKP sudah penuh dengan beberapa opsir, CSI. Kapten Abram mulai memberikan komando untuk menanyakan para saksi. Kapten Abram melipir sedikit dan mulai mencoba menelpon Alabar kembali. Telpon tersambung dan Alabar seperti biasa lupa mengisi baterai. Setelah puas memaki, Kapten Abram menutup telepon dengan setengah kesal dan kembali menyusuri TKP penikaman terjadi.

Chimera[3] ya?” begitu konfirmasi dari detektif MR-417 ketika menanyai salah satu saksi, pensiunan wanita NMR[4]. “Ada insight lain?” tanya Kapten Abram kepada detektif android. “Sejauh ini tidak, dan si wanita tidak berbohong. Denyut nadi sedikit kencang, adrenalin meningkat 40%, kecocokan alibi dan nada suara 95%.” jawab detektif itu. Kosong. Pandangan kosong dari android dan ekspresi muka datar juga jadi salah dua dari kenapa Kapten Abram membenci HM.  

“Oke Hey MR siapalah itu” kata Kapten Abram. “Anda bisa memanggil saya dengan Maroon” jawab si android. “Okay Maroon, run semua database Chimera di server kepolisian distrik 5, dan akses semua security camera.” perintah Kapten Abram. “Running, pak. Tingkat kecocokan 5%, facial recognition sedang dijalankan di 48 titik dari distrik 5 sampai 17.”

“Cih, tidak seru sekali kalau begini” gerutu Kapten Abram sambil menyalakan rokok elektrik yang baterainya tinggal 3 persen. Nada dering berbunyi, Kapten Abram mengangkat teleponnya dan menjawab “Halo Jessica, ada kabar apa?”
“Hmmm… Kapten. Alabar ke tempatmu bukan? Katanya dia follow up kasus dan pergi terburu-buru” kata Jessica
“Memang aku ada rencana ketemu dia di Gloria Pub. Tapi aku masih ada kerjaan.” Kata Kapten Abram
Aku punya firasat buruk soalnya” kata Jessica. “Ah itu kan perasaan kamu saja, memangnya ada apa?”

“Entahlah, tapi sebaiknya kapten langsung ke Gloria Pub saja” kata Jessica . “Aku masih ada kasus, jangan galau tidak penting begini dong.” bentak Kapten Abram sambil langsung menutup telponnya.
Belum beberapa detik berselang, PCD Kapten Abram berbunyi. “Penculikan di Gloria Pub. Tim terdekat harap datang”

Kapten Abram mengirim pesan lewat PCDnya dengan tulisan “Code 816. Puma Foxtrot. Gloria Pub dan langsung ke teleporter khusus polisi. Sinar putih menyelubunginya dan teleport pun jalan. (lanjut ke POV Samson I)






[1] Hampir Manusia, sebuah bahasa slang untuk unit cyborg atau android di Neopolis.
[2] Police Cases Devices : Gawai multiguna yang mulai digunakan setelah Zaman Kegelapan Teknologi. Dengan satu narahubung, polisi di Neopolis bisa mendapatkan brief awal kasus, lokasi. Jika selesai, bisa diberikan rating 1-5 bintang oleh atasan mereka.
[3] Manusia setengah binatang. Chimera Project pernah dibuat di Zaman Kegelapan Teknologi, ketika android mulai sempurna kebanyakan dari mereka dipekerjakan di tempat-tempat kumuh atau proyek bangunan serta pekerjaan kasar lainnya.
[4] Neopolis Marine Ranger : Satuan Tempur Neopolis yang banyak berjasa di Zaman Kegelapan Teknologi. Sekarang, dikenal sebagai NSDF (Neopolis Self Defense Forces)

Related Posts

No comments:

Post a Comment