Menengok Kenangan



Sudah berapa banyak bon pembayaran makan, dan tiket nonton yang kamu kumpulkan sebagai bukti kalau kamu pernah sama-sama?

Kemarin malam saat saya membereskan lemari, saya menemukan sekumpulan tiket nonton dan juga bon makan sekitar tujuh tahun yang lalu. Segepok tiket nonton bioskop yang tintanya mulai hilang dan kebanyakan tiket nonton hari Jum'at.

Beberapa minggu yang lalu, saya menemukan buku cerita yang isinya tiket dan bon makan selama setahun yang pernah ia buatkan untuk saya sebagai hadiah ulang tahun.

Dua minggu lalu, Minggu dini hari, saya pergi ke Sate Maranggi Sari Asih Cipanas memakai sweater abu-abu yang menjadi hadiah ulang tahun saya yang ke-17. Saya baru menyadarinya saat di perjalanan, dan jadilah dini hari itu saya senyum-senyum sepanjang jalan berangkat dan pulang.

Dulu aneh rasanya ketika diingatkan akan kenangan itu. Tetapi kemarin saya hanya tersenyum dan ketawa kalau mengingat apa yang terjadi hampir tujuh tahun lalu. Bagaimana proses cinta perlahan luntur karena jarak, rasa sayang harus pudar karena posesif yang berlebihan, lalu harus berakhir dengan kembali berjalan sendiri-sendiri.

Karena kadang kita perlu menengok ke belakang sebentar.

Ada yang berusaha mencari berkas lagu lama yang pernah membuat hati jatuh cinta. Ada yang menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke restoran langganan sewaktu masih berpacaran. Ada yang diam-diam me-repeat lagu yang sering dinyanyiin di karaoke sewaktu masih jadian. Ada yang kembali membaca buku yang pernah menemani saat patah hati. Teringat saat harus menerjang hujan karena sudah terlanjur janji akan menjemputnya dari tempat kursus tetapi akhirnya mendapat ciuman di pipi sebagai ucapan terimakasih.

Tetapi kenangan tetaplah kenangan, yang hanya dikunjungi sekali-kali dan hanya muncul saat kita rindu waktu sama-sama kita berjuang.

Kembali berbaringlah wahai kenangan-kenangan, di tempat dimana semestinya kamu berbaring dengan tenang.


Related Posts

3 comments