Menitipkan Kenangan


Musik, film, tempat, buku, aroma, adalah mereka yang benar-benar rela dititipkan kenangan. Pernahkah kau melewati tempat lalu mengingat kalau dulu kamu pernah bekerja di sana beberapa tahun, pernah jatuh cinta, namun bertepuk sebelah tangan. Pernahkah kamu membaui harum lalu teringat rumah lama, yang hangat dengan senyum oma opa dan sekarang mereka sudah tiada. Pernahkah kamu ketika menonton kembali film yang tayang di teve, kamu berdecak dan berkata "Gila, ini film lama banget. Gue nonton film ini pas jaman SMP. Pulang sekolah, sama temen, dan gue inget banget waktu hari itu ada Persija lagi tanding"

Bersyukurlah kau yang diberikan ingatan yang kuat. Rekamlah semua kenangan yang ingin kau rekam. Simpan dan titipkan semua kenangan itu kepada benda yang kau suka. Kepada buku yang kau baca setelah kembali bangkit patah hati. Kepada lagu yang kau dengarkan setelah ia beranjak pergi. Kepada aroma ruangan yang baru saja dicat.

Saya teringat pernah menitipkan kenangan sewaktu SMP kepada wangi residu cat.

Waktu itu hari Senin. Saya dan ia hanya berjarak beberapa langkah. Ia lebih depan dan saya di belakangnya. Kami baru saja sama-sama tiba di sekolah. Kami harus menghampiri dan menyalami guru-guru yang berjaga di depan gerbang, dan sialnya saya harus tertahan karena sepatu saya berwarna belang. Tadinya saya ingin menyelip dan menyapa dengan senyum, tetapi sial saya harus berurusan dengan guru Bimbingan Konseling dulu.

Setelah selesai dengan beberapa perjanjian dengan guru BK, saya pun masuk ke kelas. Wangi residu cat baru dari ruang kelas menyeruak masuk hidung. Selama mata pelajaran berlangsung saya yang hanya berjarak tiga meja di belakangnya sibuk memperhatikannya. Semalam saya bertukar cerita lewat pesan singkat dengannya.

Wangi residu cat masih terus tercium seharian. Sepulang sekolah, saya baru tahu kalau ia baru menerima cinta dari sahabat saya sendiri pada hari itu. Saya ingat betul hari itu.

Saya juga pernah menitipkan kenangan di sepanjang jalan Menteng. Sepulang sidang S1. Waktu itu hujan, jalanan basah, langit gelap, dan saya menerobos hujan dengan sepeda motor. Tiba-tiba muncul senyum seorang yang lama tak saya jumpai. Semalaman saya membaca surat-surat cinta yang pernah ia kirimkan sewaktu dulu.

Banyak kenangan  yang harus kita simpan, namun kepala kita tak sanggup menampung semuanya. Senang, sedih, luka, pedih, bahagia, nelangsa tak cukup rasanya kita simpan di kepala. Karena lambat laun kita akan lupa. Simpan dan titipkan semua kenangan lewat tulisan, lagu, aroma, film, tempat. Jika suatu saat kau rindu, sambangi tempat itu. Minta kembali kenangan-kenanganmu yang lalu.


Related Posts

No comments:

Post a Comment