Pertanyaan Keponakan

Saya punya keponakan berumur 5 tahun. Dengan langkah kakinya yang mungil dan pipinya tembem, serta mulut yang selalu meracau. Bertanya tentang apa saja. Dari mulai pertanyaan paling sederhana seperti "dari mana adik bayi berasal ketika ibunya sedang hamil ke pertanyaan rumit seperti "kenapa yang jahat selalu kalah sama Kamen Rider". Dan beberapa pertanyaan menyebalkan seperti "Om kok gak punya tante?".

Di mata keponakan saya, dunia adalah taman bermain yang sangat luas dan setiap orang dewasa adalah tempat bertanya dan berharap menyediakan segala jawaban. Beberapa pertanyaan di atas terlihat sangat sepele, bahkan bisa dijawab (atau diabaikan sambil lalu), namun itu tidak pernah mengurangi rasa ingin tahunya barang sejenak. Sesudah dijawab pun, selalu ada pertanyaan susulan. Keponakan saya baru berhenti bertanya ketika sedang makan, terlalu asyik bermain atau membuat rak buku saya berantakan dengan tangan-tangan jahilnya. Pun ketika dia tidur. Kalau tidak dijawab, biasanya dia akan memasang raut muka masam dan tidak jarang, menangis.

Tingkah polah macam ini saya temukan juga di novel Dunia Sophie, sebuah novel yang membalut pertanyaan-pertanyaan filosofis dengan narasi yang begitu ringan. Sophie sendiri juga merupakan seorang anak yang beranjak remaja yang karena satu dan lain hal berkenalan dengan seorang filsuf tua, Alberto Knox. Sophie mengarungi lautan luas dunia filsafat dimodali satu hal yaitu rasa ingin tahu. Dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sophie juga merupakan pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Jiwa kanak-kanak adalah sebuah epitome dari keingintahuan yang besar dan juga keberanian berpikir. Mungkin karena kita yang sudah dewasa tidak ingin diracuni lebih lanjut oleh efek-efek negatif, kita memilih untuk memendam rasa keingintahuan dan keberanian berpikir. Memendamnya dalam-dalam dan membiarkannya terkubur. Tidak jarang riak-riak rasa penasaran mencoba untuk mengemuka kembali dalam jiwa kita dan beberapa dengan kejam cenderung mengabaikannya. Di mata orang dewasa, dunia berubah dari taman bermain yang asyik menjadi tempat yang kejam, culas bahkan menggigit. Realita menggigit dan mengunyah-ngunyah jiwa orang dewasa hingga tak berbentuk serta meludahinya ke jalan. Ada beberapa jiwa yang memilih untuk mengubur jiwa kanak-kanaknya dengan rutinitas.

Sampai sekarang, saya masih bertanya pada diri sendiri kemana hilangnya jiwa kanak-kanak saya. Biasanya dia membalas, "Hei, ngapain kamu murung terus? Ayo main bola sebelum adzan Maghrib datang"

Related Posts

No comments:

Post a Comment