Sebelum Tutup Usia

Seminggu belakangan saya bertemu orang-orang yang menanyakan keinginan saya sebelum umur 30 tahun. Ia menanyakan saya ingin pergi ke negara mana, karirnya mau sampai dimana, dua tahun ke depan mau gaji berapa, apa target yang harus saya selesaikan sebelum umur 30 tahun. 

Saya menjawab itu semua dengan panjang lebar. 

Saya ingin sebelum 30 tahun sudah pergi umrah, sudah liburan ke luar negeri, sudah menikah, sudah punya rumah sendiri. Rumahnya kecil di tengah kota, atau sedikit besar tapi di pinggiran kota. Saya tidak mau ngontrak. 

Di umur 29 saya sudah siap-siap melancarkan untuk membuat start-up atau bisnis yang lain. Saya tidak mau terus-terusan kerja sama orang. 

Umur 26 tahun sudah harus siap menikah. Tahun ini harus nyari pasangan yang serius. Capek diledekin jomblo mulu. 

Umur 25 cari kerja yang income sebulannya bisa double digit lah. Masa satu digit mulu. Ngoding lagi gapapa dah, asal double digit.

Umur 27 saya sudah bisa liburan sama istri. Di umur 27 tahun maunya setiap wiken bisa ke galeri seni sama istri, atau jalan-jalan naik sepeda motor, atau naik MRT Jakarta. Enak kali ya.



Lalu....

Jum'at kemarin. Tepat sebelum pulang meninggalkan kubikel kantor, saya tak sengaja menyanyikan sepenggal lirik

"Ku sadari akhirnya kerapuhan imanku..."
dan teman kantor saya meminta saya untuk melanjutkan lagu itu sambil ia mengingat lagu apa yang barusan saya nyanyikan.

"Oh Tuhan mohon ampun
Atas dosa dan dosa
Sempatkanlah aku bertobat
Hidup di jalan-Mu
Tuk penuhi kewajibanku
Sebelum tutup usia
Kembali pada-Mu"
Sepanjang jalan pulang saya mengulang lirik itu berkali-kali. Sampai pada akhirnya sebulir air keluar dari pelupuk mata, dan saya tersengguk. Saya mengingat ambisi dan keinginan yang saya omongin ke beberapa orang yang menanyakan hal itu kepada saya. Ternyata, ada satu hal yang paling besar yang seharusnya masuk dalam ambisi dan keinginan. Yaitu selalu bersyukur, selalu mengingat Yang Maha Kuasa dan kembali ke jalan yang lurus.

Harta dan tahta pasti ditinggalkan. Satu hela nafas mendekatkan kita kepada hela nafas yang terakhir. Raga ini dipinjamkan. Kepintaran dan kecerdasan ini adalah titipan. Rumah kecil di tengah kota akan dihibahkan. Bisnis akan ditinggalkan. Kelak hanya ada kebaikan-kebaikan yang menyelamatkan ketika kematian datang.

Percuma punya rumah besar di pinggir kota tetapi ketika tutup usia tidak sempat bertaubat. Percuma sudah pergi keliling dunia kalau ketika tutup usia nanti saya masih kotor. 

Hidup ini adalah fatamorgana. Fana.


Related Posts

1 comment

  1. Subhanallahhh jadi reminder ke diri sendiri juga ini :'(

    ReplyDelete