Jiwa yang direguk

Reguk saja jiwaku yang mencair sedikit demi sedikit layaknya stalagtit
Hingga kamu puas dan lepas dahaga.
Kamu bilang aku tamak karena aku cuma ingin jiwamu
Tapi aku pengecut dengan nyali cuma satu cawan
Yang selalu kamu minum
Aku ingin kamu menjadi embun
Embun pagi yang datang tanpa permisi sehabis hujan
Embun yang katanya suci dan menyucikan
Kamu yang rela menjual dunia karena kamu punya bukit yang selalu ingin kamu taklukkan
Kamu pernah menyunggingkan senyum
Bukan padaku tapi kepada lampu temaram
Kutanya kenapa
Kamu cuma bilang aku terlalu rendah diri
Aku ingin berhenti jadi rendah
Tanpa banyak bicara
Memilih diam
Dan mendekapmu

Related Posts

No comments:

Post a Comment