Ketika Tak Mampu Memikul Sedih Sendiri

Minggu ini adalah minggu orang-orang yang suka jazz punya keinginan keras untuk datang ke perhelatan festival jazz terbesar di Indonesia. Java Jazz Festival. Sayangnya tidak semua pecinta jazz bisa membeli tiket JJF yang harganya buat kantong kempes. Saya pun sebenarnya agak malas kalau tidak mendapatkan tiket gratisan dari bos saya dulu. Kebetulan saya dibuatkan kartu identitas untuk tiga hari masuk JJF. Tentu kartu identitas itu tidak gratis, bos saya menitipkan amanah untuk melakukan dokumentasi di sana. Ya gapapa... wong harga tiket nya untuk tiga hari sepersekian gaji saya perbulan.

Saya bahagia? Oh tentu, bahagia banget malah. Terpujilah orang-orang yang memberikan tiket JJF kepada saya tahun ini.

***

Pagi tadi saya mendapatkan berita tidak enak. Tetangga langganan jahit Ibu saya tewas gantung diri. Padahal ia adalah seorang dokter gigi yang pasti duitnya banyak, istrinya pun pastinya kece badai cetar membahana, mobilnya lebih dari dua, dan rumahnya pun segede istana. Alasan gantung dirinya katanya punya beban berat, galau berkepanjangan, dan ngerasa ujian yang menerpa sudah tidak dapat ditangani.

Dari situ bisa diambil kesimpulan, harta yang berkecukupan atau lebih tidak menjamin seorang akan merasa bahagia. Punya istri cantik cetar membahana badai juga tidak menjamin kebahagiaan diri. Punya mobil mewah lebih dari dua juga tidak menjamin kebahagiaan.

***



Bukan harta, tahta, wanita dan quota yang menjamin kebahagiaan seorang. Tapi bagaimana mensyukuri dan meyakini kalau setelah susah pasti ada senang. Namun juga jangan terbuai dengan kesenangan, karena setelah kesenangan pasti akan ada susah yang cepat atau lambat akan datang. Lihat ke dalam diri, resapi nikmat yang telah Tuhan berikan. Telan pelan-pelan asamnya hidup, sesap pelan-pelan kebahagiaan yang datang. Jangan terlalu senang, jangan terlalu sedih, ya biasa-biasa aja.

Ketika tak mampu memikul sedih sendiri cobalah bicara dengan orang tua, teman, pacar, istri, suami, atau tukang ojek online yang bisa dijadikan tempat curhat. Siapa tau dengan curhat bisa lega. Masih ada Tuhan yang bersedia mendengar keluh kesah kapan saja. Masih ada buku harian, blog, yang bisa dijadikan tempat membuang semua unek-unek. Gebetan saya pernah bilang kalau lagi galau, gusar, coba merem sebentar, tarik nafas panjang-panjang, sambil ingat-ingat lagi kesenangan yang pernah hadir di hari kita. Ingat orang-orang yang masih sayang, cinta, dan butuh kehadiran kita.

Saya ingat salah satu lagu yang pernah diputar saat saya menghadiri acara Denger Bareng di Analog Factory STC Senayan. Lagu yang ringan dan dibawakan dengan sederhana oleh saudara-saudara kita dari Bali sana.


 

.....Indah itu tak selalu ada
Senang itu sementara
Jika senang jangan terlalu
Jika sedih jangan terlalu....
Sederhanakan diri
di depan masih panjang
karena hidup tak hanya
senang dan indah, indah dan senang

Related Posts

No comments:

Post a Comment