Kopi Hitam dan Lelaki Bermata Sipit



8.05 pm
Arok datang seorang diri. Ia duduk di sofa pojok kedai kopi Bellarosa. Menaruh ranselnya di bawah sofa. Membuka hodie besarnya yang kebasahan. Mengeluarkan rokok dan pemantik apinya. Diluar sedang hujan.
8.10 pm
Seorang pelayan datang membawa menu makanan. Membungkukkan badan dan meletakkan menu di depan Arok. Memperlihatkan belahan dadanya. Menyingkapkan rambutnya yang terurai sambil tersenyum manja. Arok mengabaikan.
8.13 pm
Arok memesan kopi hitam. Pelayan pergi meninggalkan. Arok menyalakan rokok. Pengunjung berdatangan. Kedai kopi tetap tak banyak perubahan.
9.20 pm
Tiga cangkir kopi hitam dan belasan putung rokok di asbak kayu. Arok mengganti posisi duduk sambil mendengarkan lagu. Memandang laptop yang ia nyalakan setengah jam lalu. Arok tetap menunggu.
9.43 pm
Jen datang mengenakan payung berwarna kuning langsat dengan motif kembang. Sepatu hak berwarna hitam yang basah. Setelan dress warna merah dan tas tangan berwarna setingkat lebih tua. Jen telat datang.
9.45 pm
Arok menyalakan rokok kesekiannya. Pelayan membukakan pintu. Arok merebahkan punggungnya ke sofa. Jen membenarkan pakaian. Arok menatap jam tangan. Jen mengaitkan tangan. Arok menggoyang-goyangkan kaki. Jen mencari-cari ketiap sudut ruangan. Arok mendapati seseorang datang. Jen berjalan perlahan. Arok bangkit,  membenarkan kemeja. Jen tersenyum mendekat. Arok memberikan tangan. Jen membalas kemudian. Arok menoleh kesebelah. Jen perkenalkan seseorang. Mereka bertiga gantian bersalaman.
10.00 pm
Arok terdiam. Jen terdiam. Tian terdiam.
10.05 pm
Tian mengajak pulang. Jen mengiyakan. Arok tertunduk. Jen memberikan undangan dan Tian menepuk pundaknya sebagai isyarat untuk bergegas pulang. Arok tersenyum. Getir.
10.07 pm
Tian memilih jalan duluan setelah menyalami Arok. Membiarkan keduanya berbincang sebentar dan membisikkan sesuatu untuk bergegas menuju mobil hitam yang terparkir di depan. "Sayang, kini aku yang ambil kemudi. Cukupkan 5 menit untuk perpisahan. Aku tunggu di depan." bisik Tian pelan. Dan mereka pun tinggal berdua di sudut ruangan.
10.09 pm
Jen berdiri. Arok berdiri. Jen memberikan tangan untuk bersalaman. Arok hanya diam.
10.10 pm
Arok mengangkat wajahnya. Jen menatapnya. Arok meraih tangannya. Jen membeku. Mereka seketika berpelukan.
10.11 pm
Badan mereka beradu. Kepala gadis itu menempel di dada Arok. Tangan Arok melingkari punggungnya. Satu menit untuk pelukan perpisahan dan mereka berdua hanya mematung.
Jen melepaskan pelukannya. Mundur selangkah dan mengambil tas tangan di atas meja. Jen berjalan menuju pintu depan. Tak membalikkan badannya. Arok tersenyum kembali. Getir.

10.12 pm
Tian mengemudi. Jen membenarkan duduknya. Tian mengusap kepala Jen dan Jen tersenyum kepadanya. Mereka berjalan pulang. Semua terasa baik-baik saja. H-10 untuk pernikahan.
10.12 pm
Di kedai kopi Bellarosa, Arok masih diam berdiri melihat mantan kekasihnya pergi. Perasaannya berantakan. Arok mengemasi barang-barangnya dan menuju kasir. Nampak kasir memberikan bill yang sudah terbayar lunas. Tiga cangkir kopi hitam untuk beberapa jam kebelakang atas nama Christian. Lelaki bermata sipit, berambut lurus, dan berwajah tampan. Tunangan Jennie Deraya Luna.
10.15 pm
Teringatnya bisikan terakhir Jen sebelum pergi. Dua puluh detik kalimat untuk penyesalan beribu perih. "Biarkan Tian bersamaku meskipun nanti mata janinku kan terlihat berbeda dari Ayah tirinya. Satu lagi Arok, tak kan kubiarkan ia mengecap rasa kopi hitam sampai ia tau wajah sebenarnya calon ayah pengecut yang ada di depanku kini.


Arok berjalan gontai. Ia pulang.



RASA | Tulisan fiksi lama minim diksi yang entah mengapa rasanya ingin diunggah. Ternyata ane alay ya~

Related Posts

No comments:

Post a Comment