Tentang Ibu

Pertama kali saya nulis di blog ini pada harinya dan malam pula. Wiken kemarin saya habiskan untuk bermain game online dan mengerjakan projek terbaru saya. "Sabi Lah... project" namanya.

Saya pun menulis tulisan ini lewat gawai sambil menunggu Ibu selesai mengukur baju pelanggan jahitnya. Yap, Ibu saya seorang penjahit.

Selain bisa menjahit baju, Ibu saya pun pandai menjahit hati anak-anaknya. Saya ingat betul saat pertama kali patah hati. Malam itu saya curhat kepada Ibu saya, bercerita tentang kecewanya saya dan sakitnya hati karena putus cinta. Ia dengan besar hati menenangkan dan berujung dengan cerita masa remajanya.

Sering saya bercerita tentang pengalaman pribadi saya kepada Ibu. Sewaktu saya salah mengambil keputusan untuk keluar dari kerjaan lama dan akhirnya menganggur beberapa bulan, Ibu lah yang menenangkan dan membesarkan hati saya.

Ibu adalah pendengar yang baik.

Ibu rela mendengarkan impian saya berjam-jam. Walaupun banyak impian saya yang pasti menurut orang impian itu terlalu besar dan mengada-ada. Ia selalu meyakinkan saya kalau anything is possible, gak ada yang gak mungkin.

Saya ingat ketika saya kecil, Ibu lah yang mengantar dan menjemput saya saat TK dengan mobil. Ibu saya bisa menyetir mobil. Namun sayang, waktu itu ada satu insiden yang membuat Ibu trauma untuk menyetir, sampai saat ini Ibu tidak mau memegang kemudi mobil.

Tetapi Ibu saya tidak bisa memasak masakan yang susah. Tapi kalau urusan sambal mentah dan ikan asin Ibu saya jagonya. Walaupun sekarang-sekarang ini Ibu jarang bikin sambal di rumah.

Sewaktu SD saya pernah diajak Bapak keluar kota selama seminggu. Ibu saya tidak ikut waktu itu. Dan ketika saya kembali pulang, saya melihat baju saya yang waktu itu saya pakai sebelum pergi belum ia cuci. Ia menciuminya setiap hari selama saya pergi, katanya.

Ibu saya yang mengajarkan saya membaca sewaktu TK. Sampai-sampai saya menjadi siswa paling awal yang menyelesaikan buku belajar membaca sehingga saya bisa pulang lebih cepat dari sekolah ketimbang teman-teman yang lainnya.

Sewaktu sakit, Ibu lah yang paling sibuk. Perlu kalian tahu, ketika sakit saya akan menjadi berisik dan mengingau setiap malam. Tengah malam saya akan berteriak-teriak memanggil Ibu dan ia akan menghampiri saya walaupun ia sudah terlelap sebelumnya.


Sudah hampir satu jam saya menunggu Ibu mengukur pelanggan jahitnya. Barusan saya bertanya

"Bu, masih lama kah?"

"Sebentar lagi nak, mau pulang duluan?"

"Enggak kok."

"Sip tungguin ya, awas kamu kalau ninggalin"

Related Posts

No comments:

Post a Comment