Kehilangan Adalah Seni Menata Ulang


sumber: www.pinterest.com

Hampir semua orang pernah mengalami kehilangan. Entah dalam bentuk apapun, ia selalu bernama kehilangan. Ada yang kehilangan kepemilikan, pekerjaan, kepercayaan, aspek diri lainnya hingga kehilangan orang yang paling dikasihi. Sekali lagi, kita akan menyebutnya kehilangan.

Suatu waktu saya mengamati berapa banyak orang meratapi kehilangan dan menganggapnya sebagai sebuah nasib buruk. Bahkan tak jarang tanpa sadar kita mengutuk hal ini. Ini salah kamu, itu karena dia. Kenapa harus begini, kenapa tidak begitu. Kita akan terus menerus cari penyebabnya sampai lupa apa yang kemudian harus dilakukan setelahnya. 

Ada kalanya kamu tidak bisa mencari kemana kehilanganmu bermuara, lenyap dalam senyap. Ia yang kehilangan handphone nya belum tentu bisa mencari dimana koordinat terakhir gadgetnya berada, meski aplikasi pencari diharapkan mampu bekerja. Ia yang kehilangan pekerjaan belum tentu akan diterima kembali karena kebijakan kantor yang terlampau tinggi atau karena kesalahannya sendiri. Ia yang kehilangan kepercayaan belum tentu dapat bersikap normal karena bekas luka yang tertinggal bisa jadi lebih menyakitkan. Ia yang kehilangan orang paling dikasihi bisa saja pura-pura tegar atau menangis dalam diam tanpa tahu harus berbuat apa untuk mengembalikan yang tersayang. Tidak tahu harus menuntut apa kepada yang semestinya bertanggung jawab. Jika ada di posisi ini, kamu akan memilih untuk terus menyalahkan?

Pagi tadi saya harus kehilangan keluarga saya, adik kedua dari Papa. Ia harus terlebih dahulu menghadap sang pemilik nyawa dan bisa jadi berkumpul dengan orang-orang yang dulu juga kamu kasihi. Pagi tadi juga saya menerima kabar tentang rencana pernikahan kawan dan juga kabar tentang pekerjaan. Semua kabar datang, tak bisa disaring mana yang pertama harus didengar. Perasaan saya berkecamuk, dan tentu rasa yang paling berat adalah kehilangan dan perpisahan. Nampak mata atau dalam kematian.

Semua orang berhak berkata "Sabarlah", tapi tidak semuanya bisa disabarin kan?
Semua orang berhak berkata "Ikhlaskan", tapi tidak semua orang bisa menikmati prosesnya.
Semua orang berhak berkata "Lupakan", padahal seni dari kehilangan bukanlah melupakan tapi menata ulang.

Kehilangan anggota keluarga atau orang yang dikasihi, rasanya seperti berjalan pincang. Seperti sepeda dengan satu roda, susah untuk seimbang jika tak terbiasa. Pertama tentu kita akan denial dengan keadaan yang sedang terjadi, dengan kehilangan apapun itu. Lalu kita sadar bahwa semua itu nyata dan kamu menjadi marah dengan dirimu sendiri. Seperti yang saya bilang diatas, jadi kerap menyalahkan dan mungkin menarik diri karena merasa depresi. Merasa semua usahamu kurang ataupun tidak total untuk mempertahankan apa yang sedang kamu miliki.

Waktu terus berjalan dan kamu mulai berada di tahap menerima. Mengevaluasi satu per satu kejadian, mengurainya jadi lebih lepas. Menata ulang apa yang bisa dirancang, diperbaiki, dan dijalani. 

Mungkin waktu saya dan waktumu untuk menata ulang semua ini berbeda. Bisa jadi tahap penyembuhan rasa hilang milik saya jauh lebih cepat atau mungkin lebih lama daripada kamu. Bisa jadi juga belum menemukan skemanya, seperti teori Kübler-Ross atau teori berduka lainnya.

Hendak dibawa kemana hidup selanjutnya? Kamu yang menentukan. Saatnya menata ulang bagi siapapun yang kehilangan, termasuk bagi ia yang akan ditinggal mantannya ke jenjang pernikahan. 

Selamat menikmati kesedihan tanpa harus kesakitan. GBU!


Related Posts

2 comments