Menemani Ayah Reuni


Hari-hariku diisi dengan perjalanan kerja atau terkadang menjadi perjalanan dengan rute rumit hanya agar beberapa tempat impian bisa ku kunjungi. Perjalanan-perjalanan yang tentu melelahkan hingga ku pilih menyempatkan mengunjungi kawan di sela-selanya. Melepas penat bersama obrolan singkat atau canda cerita dalam segelas teh hangat. 

Kadang, aku memilih pergi ke tempat yang sepi hanya untuk berbincang dengan mereka yang tak terlihat atau menangkup harap dalam rutinitas doa. Menyapa sang pencipta.

Terlepas dari waktu-waktu yang ku habiskan di jalan dan banyaknya orang yang ku temui, ia yang kupanggil Ayah selalu menungguku untuk pulang. Kembali menjadi bungsu yang ia ajak makan siang, mengulang cerita yang sama di meja makan.

Entah sudah berapa ratus malam Ayah habiskan untuk merasa dingin sendirian. Bercengkrama dengan malam, menaruh doa dalam sujud. Di rumah kami, Ayah seakan jadi tujuan. Insomnia yang dialaminya jadi tanda bahwa otaknya terus berputar hingga matahari menyibak gelap. Kesepian yang tak pernah ia inginkan.

Ayah tinggal bersama ke 7 kucingnya dan kami akan bergantian datang mengunjungi sebab Ayah tak ingin anaknya melebur mimpi begitu saja di rumahnya. Kami harus datang membawa cerita yang akan ia sandingkan dengan masa jayanya. 

Kepulan asap rokok yang ia konsumsi seakan tak pernah jadi penghalang riwayat kesehatannya yang memang jarang bersinggungan dengan dokter. Seberapa kuat kami menahan, semakin dekat hubungan yang ia jalin dengan nikotin. Namanya anak, selalu merasa pendapatnya untuk kondisi orang tua adalah yang terbaik. Adu mulut soal larangan ini itu tak bisa dielakkan. Ayah hanya manggut-manggut, seakan itu bukanlah yang terpenting.

Di masa pensiunnya, aku bersyukur teknologi memudahkan ia jalin komunikasi dengan kawan-kawan lama. Sepertiku, Ayah tentu merindukan sorak ramai dan kepingan memori yang hilang. Hari-harinya mulai diisi oleh berita di media elektronik, chatting sana sini, hingga jadi pengamat segala lini. Yang terbaik tentu ketika ia berhasil menemu sahabat saat sekolah, mudah bertanya kabar pada saudara, dan mencipta reuni seperti kelompok kebanyakan. 

Ayah memintaku hadir menemaninya. Jadi pendamping reuni menggantikan Mama yang telah tiada.

Sering mendengar pepatah bahwa kita terus bertambah usia dan tanpa kita sadari orang tua turut menua? Waktu terus berjalan dan semua seakan jadi tantangan bagi kita yang disibukkan banyak hal. Ingatkah pada kebiasaan Ayah Ibu, dengan makanan kesukaannya, film yang mungkin mereka rindu, lalu sempatkah mengubungi ketika kita terus berhadapan dengan pekerjaan dan hal lain yang lebih menyenangkan? Sempatkah menemani dalam momen acara yang orang tua kita nantikan ketika tawaran travelling ke tempat hits lebih menjanjikan?

Rasanya, seberapa sering aku pulang tak bisa membayar segala hal yang diberikan orang tua sejak dalam kandungan. Kasih sayang yang sama, doa tulus yang rutin, pendidikan terbaik, hingga waktu yang tak terbatas.

Dalam reuni yang Ayah helat bersama kawan-kawannya, aku terperanjat bahwa semua orang telah mengenalku dan pahami aktivitas yang kulakukan. Bahkan Ayah turut mengerti kisah keluarga pak Joko, karir anak bu Patria, kesehatan pak Latif, dan cerita-cerita lainnya. Grup Whatsapp yang dibuat jadi pelipur lara orang-orang tua yang punya rasa. Mereka berbagi cerita, saling menguatkan. Lalu aku sadar, mereka hanya ingin didengar dalam kebisingan zaman.

Waktu reuni berjalan aku melihat keceriaan. Mereka tak ubahnya anak muda yang butuh perhatian. Ingin berfoto, menyanyikan lagu yang sama, berdansa, dan membuat doa di penghujung acara. Memori yang patut dikenang bagi siapa saja yang ada disana. 

Sejak reuni itu berakhir, aku tak lagi menghentikan kisah Ayah yang berkali-kali diulang. Aku tak butuh pura-pura menguap bosan hanya agar Ayah menghentikan. Meski sudah hafal cerita atau nasihatnya, aku akan terus mendengar dan belajar memahaminya. Bukan karena lebih baik diam karena malas menanggapi, tapi karena letih yang ia rasa selama ini tak cukup disampaikan lewat kata. 

Dinding ego yang dulu ia bangun telah diruntuhkan perlahan seiring lanjutnya usia, ia tak lagi menghadang tapi justru merangkul kami lebih dalam. Jika dulu Ayah jadi sosok paling mengerikan, kini aku sadar bahwa bukan sosoknya yang mengerikan tapi pikiranku yang berlebihan.

Semoga aku dan kita semua dapat lebih banyak mendengar serta menghargai waktu yang ada. Memahami luka atau suka yang tertanam. Doa terbaik untuk kedua orang tua kita semua.

Jangan lupa menyapa Ayah Ibu hari ini.



Related Posts

4 comments

  1. aaaaaaa..... Akhirnya Ajeng nulis lagi. Semoga mereka selalu sehat dan dalam lindungannya yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ih beta 3 mingguan skip ya ampuuuuun~

      aamiin aamiin ya Rabb.

      Delete
  2. Tulisan ini bagus banget! Jadi kangen sama yang di rumah :)

    ReplyDelete
  3. Ajeng saya suka sekali dengan tulisanmu. Sejak kamu dikenalkan oleh Pak Taufik, ajeng itu nama anak bontot saya, begitu beliau berkata.

    ReplyDelete