Minggu Terakhir

Percaya gak kalau Tuhan sudah mentakdirkan kita untuk melewati jalan yang berbeda? Aku dan kamu, sepertinya memang ndak bisa terus jalan sama-sama. Gandengan tangan kita perlahan lepas karena kita memang seharusnya ngelewatin jalan yang berbeda. Aku dan kamu, ndak bisa bersama.


Aku ingat saat pertama kali bertemu kamu. Selasa waktu itu. Aku pikir umur kamu lebih tua dari umurku. Aku melihatmu dari jauh, dan sempat berpapasan di lorong. Kamu bersama temanmu kala itu.

Ngomong-ngomong tentang lorong, aku pernah punya pengalaman buruk dengan lorong kelas sewaktu SMA. Ada satu lorong yang paling anak baru hindari karena isinya adalah kakak kelas tiga yang nakalnya Naudzubillah. Teman sebangku ku waktu itu pernah sekali melewati lorong itu, dan akhirnya dia ditenteng ke ruang kelas tiga di lantai atas kelas paling pojok. Temanku itu ditanya dan dimaki-maki mengapa berani-beraninya melewati lorong itu, dan temanku hanya bisa terdiam ketika dibentak-bentak oleh kakak kelas yang nakalnya Naudzubillah itu.


Ah... kembali lagi ke tentang kamu. Kalau ndak salah, minggu ini adalah minggu terakhir kamu berada di sana. Kamis adalah hari terakhir kamu di tempat itu, katanya. Kemana pun kamu pergi, terimakasih telah meninggalkan kenangan baik dan buruk. Ya, kenangan itu akan aku simpan rapih, dan akan kutengok sekali-kali.

Ada beberapa lagu yang setiap aku dengarkan akan selalu teringat tentang kamu. Padahal mungkin kamu ndak akan pernah suka lagu itu. Aku ingat, dua tahun yang lalu, aku membayangkan dirimu ikut dan larut dalam salah satu festival musik bersamaku. Aku ingat, setahun yang lalu, pada satu Jum'at malam aku teringat kamu pada salah satu event yang diselenggarakan kantor.

Mungkin kamu ndak akan pernah tau dan ndak akan pernah baca tulisan ini. Tulisan ini adalah tanda kalau aku dan kamu pernah bareng-bareng, dan sekarang waktunya kita berpisah dan memilih jalan masing-masing


Related Posts

No comments:

Post a Comment