Setelah Menelpon Ibu

Aku pernah membayangkan ada seseorang yang tiba-tiba datang ke rumah pagi-pagi, mengetuk pintu dengan cepat dan mengabarkan kalau hari itu aku mendapatkan undian pergi ke negeri jauh. Aku membayangkan pada saat itu aku senang bukan kepalang. Cita-cita selama hidup akhirnya terkabul. Aku akan tinggal di negeri jauh, menjadi minoritas, saatnya melihat dunia.

Selang beberapa menit kemudian aku tersadar. Hanya aku yang boleh berangkat. Tiket sekali jalan. Aku lalu berubah menjadi bimbang. Bingung memilih cita-cita dan meninggalkan orang yang aku sayang, atau tetap menetap bersama orang-orang tersayang. Tapi orang itu memaksa aku untuk segera memilih, aku memilih untuk tetap bersama orang-orang tersayang. Pilihan itu aku pilih karena aku belum tau dan takut tidak bisa berkomunikasi dengan mereka.

Aku membayangkan selang beberapa tahun dari kejadian itu. Teknologi berkembang maju. Komunikasi hampir tidak ada penghalang. Real-time orang bilang. Begitu mudahnya berkomunikasi dan terhubung dengan orang yang kita sayang. Apakah aku menyesal menolak pergi tinggal di negeri jauh? Tentu tidak.

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Aku yakin suatu saat tawaran itu akan datang lagi.

Saat aku menulis tulisan ini aku membayangkan, andai saja cerita di atas benar kejadiannya.

Related Posts

No comments:

Post a Comment