Berjalan Terus



Belakangan, cuaca Jakarta cerah dan sangat terik. Tidak ada awan gemawan, langit cerah, biru, seperti warna mata orang-orang dari negeri jauh.

Berbeda dengan hatinya. Kelabu dan basah. Akibat jarak yang memisah.

Ia teringat dengan kaki mungil yang tidak letih berjalan, berlari, lalu terjatuh dan menyisakan luka perih. Perih yang muncul setiap ia pergi mandi untuk segera berangkat sekolah.

Kali ini ia tampak letih. Jangankan berlari. Berjalan pun tidak punya daya. Padahal ia ingin sekali berjalan yang jauh. Berjalan terus. Mengejar seorang yang berharga dan kini pergi entah kemana.

Seseorang itu pergi dengan mobil dan pesawat yang belum ada tandingannya. Jarak semakin jauh dan dada nya semakin keruh.

***


Ia teringat tentang hujan yang panjang. Membanjiri selokan sampai akhirnya tumpah ke jalan-jalan. Hari itu hari ulang tahun seseorang. Kado sudah disiapkan, tapi tak mungkin untuk pergi ke luar.

Ia teringat tentang langit yang cerah. Gemintang berserakan di angkasa. Rela begadang demi menikmati langit yang cerah dari atap rumah. Ia ingat persis hatinya hari itu.

Langkah-langkah biru perlahan surut. Hatinya semakin kalut.

Pernah suatu malam ia berdoa. Meminta agar lupa nama benda-benda angkasa.


Related Posts

No comments:

Post a Comment