Paska Hari Itu

Tulisan ini saya tulis setelah beberapa minggu yang panjang. Banyak kejadian yang terjadi selama diri saya dalam tiga minggu belakangan ini. Setelah menulis terakhir --tiga minggu lalu-- saya absen menulis di sini karena sibuk memikirkan ini dan itu. Tak usah lah saya ceritakan di sini, tapi kejadian ini sungguh pelik dan sulit.

Sambil mendengarkan Emma Stone humming City of Stars, izinkan saya menulis tentang "Lelah Hati".

Hari ini, sepanjang jalan menuju salah satu tempat, saya memikirkan tentang "Lelah Hati". Pernah gak si kamu merasakan hati yang sudah sangat lelah dengan sesuatu keadaan? Sampai akhirnya kamu males bahkan mungkin muak dengan keadaan yang bikin hati lelah terus-terusan.

Minggu lalu saya dibilangin oleh seorang teman tentang memilih orang yang pantas untuk kita sayangi. Lalu kemudian pada akhirnya saya merasakan lelah hati. Banyak wejangan, pencerahan, tapi ujung-ujungnya saya jadi lelah hati. Capek.

Kita harus tau siapa orang yang pantas terus disayang, dicinta, dan diberikan waktu untuk mencoba menyayangi kita kembali. Banyak orang yang larut dalam penantian, dalam harapan yang tak kunjung menemukan ujungnya dan berakhir tanpa kepastian atau malah ditinggal pergi. Penting memberikan tenggang waktu, tapi penting juga memberikan batas waktu untuk seorang yang berharap sayang juga terhadap diri kita. Dari pada nelangsa dalam ketidakpastian, lelah dalam penantian, kadang kita perlu melepaskan orang yang kita sayang. Dan menerima, kalau sayang atau cinta yang kita punya bertepuk sebelah tangan.

Fokus ke yang lain, pindah, cari lagi dan berharap semesta segera memberikan jawaban yang tepat, seseorang yang memang akan menjadi pujaan hati dan teman mengarungi hari.


Related Posts

No comments:

Post a Comment