Tidak Semua Orang Benar-Benar Pergi Menuju Tujuannya



Siang tadi aku memutuskan pergi mengunjungi kakak di kota sebelah. Menunggu angkot bersama dua orang laki-laki usia 60 something dengan tas kresek di tangannya. Sesepuh itu hanya berdua, jalannya sedikit gontai dan berpeluh karena lelah. "Semoga lancar perjalanannya", batinku.

Di angkot, aku berhadapan dengan ibu usia 50an yang menenteng tas rotan berisi botol aqua besar dan sebuah jaket ukuran besar. Lagaknya sedikit panik sambil menghitung ulang uang recehan. Lembaran uang seribuan yang kusut ia genggam di tangan kiri, tangan kanannya bersiap membayar. "Harga angkotnya berapa ya nak?", tanyanya
padaku. 

"Oh sekitar empat ribu kalau jarak dekat. Ibu mau kemana?", sahutku yang sedikit kaget.

"Adek tau panti pijat disini dimana? Saya lagi cari kerja. Hanya bisa mijat", jelasnya.

"Kalau disini setahu saya cuma ada panti pijat refleksi. Ada juga sangkal putung yang tempatnya jauh bu. Ibu darimana?"

Aku terus bertanya karena ingin tahu dan menjawab kebingungannya yang begitu nampak dari gerak geriknya. Dari mata dan juga raut wajahnya. Kasihan jika ia harus terus kebingungan.

"Dari Banyuwangi. Kalau di panti ibu bisa sekalian tidur disana", jawab si Ibu.

"Gak ada saudara ya disini?"

"Gak ada dek. Nanti ya tidur di jalan. Depan toko. Hmmm.. tapi ya saya takut, tapi mau gimana. Ndak papa", jelasnya lagi.

Buru-buru aku periksa google untuk cari tahu panti pijat tradisional yang sekiranya bisa menampung si Ibu. Tapi sedih juga, yang keluar di mesin pencarian ini justru info panti pijat plus plus dan berita prostitusi berkedok pijat lainnya. Susah juga ya.

"Ibu turun dimana sekarang?", tanyaku.

"Di pasar aja nak", jawabnya lagi.

Ingin bertanya soal alasan dia pergi, tapi tak sopan. Ingin bertanya yang lebih dalam, tapi ramai orang di angkot membuat ruang bicara sebatas benang. Tak sadar kamis sudah sampai di pasar yang ibu itu akhirnya tuju. Aku memutuskan untuk membayar angkotnya dan bicara tentang kerjanya. Belum sempat membuatkan sign "MENERIMA JASA PIJAT TRADISIONAL" atau memberinya nomor teleponku, angkot sudah kembali melaju pergi meninggalkan pasar.

Pilu. Tak semua orang benar-benar tahu cara untuk mencapai tujuannya. Tak semua orang benar-benar tahu kemana dia akan pergi di hari selanjutnya.

Sambil memikirkan nasib si ibu, aku teringat beberapa kawan yang mengeluh tentang pekerjaannya padaku. Tentang lelahnya bekerja, tekanan yang jadi sembilu, dan gelisahnya waktu terbuang. Seakan ada saja hal mendera yang dirasa tak sebanding dengan inginnya. Dirasa tak setimpal dengan usaha dan kerja kerasnya. Gaji, waktu, dan cerita yang hilang karena bekerja tanpa rasa senang. "Sulitnya mencari barokah jika tak tulus melakukan", ujar salah satunya. 

Semua terasa kontras, kerja dan mencari kerja. Semua terasa kontras, pulang atau tidak kembali sama sekali. Semua terasa kontras, bahkan ketika kamu jadi melihat banyak cerita dari dalam angkot. Dari kendaraan sekecil itu ibu-ibu pergi ke pasar, bapak tua duduk sempoyongan, anak sekolah ikut upacara penurunan bendera 17 Agustus, hingga melihat si supir yang terus menerus terima telepon. Ramai cerita yang ku dapat saat melakukan perjalanan. Membuka mata dan mencuri dengar.

Stasiun, pelabuhan, terminal, halte, bandara, maupun jalanan seperti mengingatkan kita bahwa setiap orang akan bergerak menuju tempat yang mereka mau. Berjalan ke sekolah, pergi untuk bekerja, terbang dan berlibur, atau langkahkan kakinya mengejar sesuatu sebelum nantinya pulang ke rumah. Tetapi, tidak semua orang benar-benar pergi menuju tujuannya. Tidak semua orang perlu atau sempat mengucap selamat tinggal, selamat jalan, atau sampai berjumpa lagi. Tidak semua orang menemukan caranya untuk berlabuh dan memeluk erat dirinya dengan rasa kasih.

Ketika lewati setiap perjalanan, pastikan kamu telah mencukupi diri dengan rasa syukur. Bisa jadi tak semua orang lebih baik dari kita atau berani memilih jalan mana yang harus ditempuh untuk hidup di kemudian hari. Lucunya cara Tuhan membagi nikmatnya pada kami. 

By the way, Dirgahayu ke-72 RI. Merdekakan pikiranmu soal hidup ini. 

Related Posts

No comments:

Post a Comment