Menyeru Maaf dan Merayakan Hidup





Makin gak terasa udah ada di penghujung tahun 2017 dan udah lama banget tulisan beta gak nangkring disini. Hari ke hari, bulan ke bulan, terpikir sudah berapa banyak peristiwa yang dilewati atau bahkan terlewatkan. Ah, waktu melaju seperti peluru. Cepat sekali. 

Mungkin banyak dari kita yang udah booking jadwal liburan akhir tahun, bikin acara sama keluarga dan teman, atau memutuskan untuk gak kemana-mana. Tujuannya selain mengisi waktu, memanfaatkan cuti, juga untuk menyenangkan diri. Boleh dibilang, ini adalah cara untuk merayakan hidup. Ada yang memilih ramai, atau menikmati sepinya. Bebas kamu pilih yang mana. 

Dari sekian banyaknya pilihan untuk menikmati jalannya akhir tahun, ada satu kontemplasi tentang hidup yang terlintas di diri setiap malam : sudahkah kita memaafkan segala kesalahan yang terjadi di tahun ini? 

Kenapa kesalahan yang diingat? Karena manusianya tempatnya khilaf (eh basi!).

Lebih tepatnya karena bagiku menyeru maaf adalah salah satu cara merayakan hidup. No hard feeling, melanjutkan setiap keputusan yang dipilih.

Beberapa teman memilih menikah, memilih berpisah, memilih diam, dan memilih berpindah. Sesuai dengan tujuan hidup masing-masing, sesuai dengan pengalaman yang dialami. 

Hidup kan gak ada yang mulus seperti paha Gal Gadot atau Miranda Kerr, tapi bisa aja kita memilih untuk menerima setelah sebelumnya berjuang untuk jadi sempurna. Tapi, please jangan menyesal dengan apa yang sudah kamu pilih. Jangan.

Tahun ini merasakan benar energi negatif bisa berubah menjadi sesuatu yang positif ketika kita bisa merelakan suatu hal. Bertukar sapa dengan mereka yang tiada kabarnya, menghubungi kawan untuk berbagi cerita. Coba analisa juga setiap masalah yang datang, cari jalan keluar, pilih penyelesaian, dan belajar memaafkan orang lain atas suatu hal. Jangan merunduk terus, ya.

Rasa sakit emang bakal terus mengikuti dan bisa jadi bikin orang susah percaya, enggan mendengar, dan jadi overthinking. Tahap penerimaan itu gak gampang dan tidak banyak orang yang bisa melupakan, tapi setidaknya kita belajar untuk memulai semuanya sebelum berpindah bulan. Sayang jika harus melewatkan tahun ini dengan kesedihan. Hidup adalah maju, meski kamu memilih diam, jangan kecewakan dirimu. 

Kita punya cara untuk terlihat baik-baik saja, tapi tidak punya waktu banyak untuk berterima kasih pada diri sendiri karena sudah bertahan. Sudah berusaha keras menerima banyak hal hingga siap menyambut tahun baru.

Tahun 2018 sungguh sayang jika dimulai dengan hati yang gamang dan penuh dendam. Free your heart from hatred. Rangkul dirimu erat dan kabarkan bahwa kamu siap selesaikan resolusi yang dibuat. Selamat merayakan hidup, selamat tahun baru (yang kecepetan), ya! 





Related Posts

1 comment