Awan Kelam Payung Hitam

Dua hari ini saya merasa seperti membawa payung hitam ke mana-mana. Awan kelam mengikuti ke mana pun saya pergi. Dimulai dari kabar tentang pemboman di Surabaya, sampai kabar kalau ada kerabat yang tidak punya dana untuk membayar uang sekolah anaknya.

Dimulai kabar duka dari Surabaya. Terjadi pemboman di tiga gereja yang merenggut nyawa manusia-manusia yang tidak bersalah. Entah apa yang membuat pelaku gelap mata. Syahid? Dalam agama tidak ada yang memerintahkan untuk menghancurkan rumah ibadah, tidak ada yang menganjurkan untuk membunuh, apalagi bunuh diri.

Awan kelam menyelimuti Indonesia.

Disusul oleh kabar pemboman lagi di salah satu rusun di Sidoarjo, lalu pagi tadi ada lagi ledakan di Mapolresta Surabaya. Ada apa Indonesia?

Muncul banyak dugaan dan asumsi buruk. Jagad maya mulai tercemar dengan issue-issue lainnya. Ada yang menggunakannya untuk menggiring opini. Ada pula yang merasa benar dan menyalahkan pihak lainnya.

Hari ini ditutup dengan kabar kalau ada kerabat yang belum bisa membayar uang sekolah anaknya. Sedih rasanya. Ingatan saya terbang beberapa tahun lalu, saat orangtua saya berusaha mencarikan biaya sekolah saya dan meminjam kepada seorang saudara.

Awan kelam itu masih menyelimuti Indonesia. Payung hitam itupun rasanya masih saya bawa ke mana-mana.

Semoga awan hitam ini lekas berlalu.

Related Posts

No comments:

Post a Comment