Menyapa Ramadan


Sore sebelum Ramadan tiba, aku melihat televisi penuh cerita. Teror di sana sini, pilu di dalam negeri.
 
Sore sebelum Ramadan tiba, aku melihat sisi lainnya. Orang-orang yang berlalu lalang membeli sayuran. Buah-buah yang bertumpuk, tangan-tangan yang menyaut, dan ucapan tawar menawar yang berputar. Seolah esok dapur kan mengepul lebih pagi. Membawa aroma lebih dini. 

Sore sebelum Ramadan tiba, aku memandang wajah-wajah bahagia. Anak kecil yang berlarian menunggu senja. Bersorak ceria setelah mandi sore pukul 3. Wajah cemong dan wangi bedak bercampur telon, harapnya masjid segera terisi. Bermain ke sana sini.

Sore sebelum Ramadan tiba, aku melihat langit yang tak biasa. Seperti diingatkan untuk memberi jeda atas hidup yang terus meminta hal berbeda. Tuhan melukis warna merona di kanvasnya, membuatku memeluk diri dan takjub tak terkira.

Inilah sore dengan rindu yang tak biasa. Seperti hendak menyapa kekasih setelah ribuan hari tak berjumpa. Inilah sore yang tak biasa, dengan syukur yang tak terukur. Dengan menyingkirkan jelek pikirku, bersiap untuk terus tumbuh.

Aku siap larut dalam kasihNya. Menyapa Ramadan, yang ku rindukan.

Related Posts

No comments:

Post a Comment